Custom Search
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Menguak Sejarah Cokronegoro Sebagai Bupati Purworejo
Ketika anda berada di Desa Bulus Kecamatan Gebang, anda akan menemui sebuah makam bersejarah yaitu makam Cokronegoro I yang diakui sebagai Bupati Purworejo yang pertama.
Bagaimana perjalanan hidupnya hingga beliau dianggap sebagai pioneer di Kabupaten Purworejo?
Setelah baca sana sini dari berbagai sumber akhirnya saya mencoba menuliskan di sini sebagai arsip pribadi siapa tahu bisa sebagai bahan lamunan...eh renungan maksudnya.
Adalah seorang pemuda yang bernama Reso Diwiryo yang dilahirkan di Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi pada hari Rabu Pahing, 17 Mei 1779. Ketika remaja, Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta dengan tugas mengawasi irigasi di Ampel Boyolali, setelah beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi abdi dalem Kraton Surakarta dengan pangkat Mantri Gladhak yaitu pimpinan kantor pengurus pajak kraton. Reso Diwiryo dikenal sebagai abdi yang tekun dan cerdas, terbukti Reso Diwiryo dapat melakukan pengukuran dan pembagian Siti Lenggah (jawa: tanah bengkok) kepada para pembesar dan pangeran secara adil dan merata.
Reso Diwiryo akhirnya diangkat menjadi Penewu Gladhak dan bergelar Raden Ngabehi Reso Diwiryo.
Karena ada sesuatu hal, Reso Diwiryo kemudian megundurkan diri dari pegawai kraton kemudian pulang ke Bragolan untuk melakukan Tirakat Ngluwat yaitu mengubur diri selama 40 hari.
Bertepatan dengan itu pada hari Kamis Kliwon, 7 Januari 1823 Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di Brengkelan, kemudian Diponegoro mendirikan pemerintahan di Brengkelan dan mengangkat Bupati Madyokusumo.
Belanda kewalahan menghadapi perlawanan Diponegoro sehingga menyeret Kasunanan Surakarta untuk terlibat dalam peperangan dengan alasan bahwa wilayah Bagelen adalah bagian dari Kasunanan Surakarta sehingga tidak selayaknya dikuasai oleh Diponegoro. Hasutan tersebut membuat Paku Buwono VI sebagai pemimpin Kraton untuk mengambil tindakan dengan memberangkatkan pasukan dengan yang dipimpin Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke tanah Bagelen, Kusumoyudo memohon kepada Paku Buwono VI agar sahabatnya Reso Diwiryo untuk mendampingi dirinya sebagai penunjuk jalan karena Reso Diwiryo dilahirkan di tanah Bagelen sehingga dianggap menguasai medan, kemudian Reso Diwiryo diangkat menjadi Senopati Pengamping. Akhirnya belanda dapat mendesak mundur pasukan Diponegoro karena ada bala bantuan dari pasukan Kraton Surakarta.
Atas jasanya tersebut pada tahun 1828 Reso Diwiryo diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan pada oleh Paku Buwono VI dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo dan mendapat Siti Lenggah sebesar 500 Bau (350 hektare).
Pada tahun 1830 belanda berhasil menangkap Diponegoro di Magelang dengan cara menipu yaitu mengajak berunding untuk perdamaian namun Diponegoro malah ditangkap dan diasingkan ke Makasar.
Paska tertangkapnya Diponegoro segera dilakukan pembenahan antara pemerintahan Belanda, Yogyakarta dan Surakarta. Reso Diwiryo kemudian diangkat menjadi Bupati Brengkelan. Reso Diwiryo kemudian bergelar Raden Adipati Aryo Cokronegoro. Pada tanggal 18 Desember 1830 atas usulan Reso Diwiryo maka Brengkelan diganti menjadi Purworejo yang berarti awal kemakmuran dan kemudian pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasar Surat Keputusan dari Gubernur Hindia Belanda dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah Bupati Purworejo oleh KH Baharudin.
Setelah baca sana sini dari berbagai sumber akhirnya saya mencoba menuliskan di sini sebagai arsip pribadi siapa tahu bisa sebagai bahan lamunan...eh renungan maksudnya.
Adalah seorang pemuda yang bernama Reso Diwiryo yang dilahirkan di Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi pada hari Rabu Pahing, 17 Mei 1779. Ketika remaja, Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta dengan tugas mengawasi irigasi di Ampel Boyolali, setelah beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi abdi dalem Kraton Surakarta dengan pangkat Mantri Gladhak yaitu pimpinan kantor pengurus pajak kraton. Reso Diwiryo dikenal sebagai abdi yang tekun dan cerdas, terbukti Reso Diwiryo dapat melakukan pengukuran dan pembagian Siti Lenggah (jawa: tanah bengkok) kepada para pembesar dan pangeran secara adil dan merata.
![]() |
| Makam Cokronegoro I |
Bertepatan dengan itu pada hari Kamis Kliwon, 7 Januari 1823 Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di Brengkelan, kemudian Diponegoro mendirikan pemerintahan di Brengkelan dan mengangkat Bupati Madyokusumo.
Belanda kewalahan menghadapi perlawanan Diponegoro sehingga menyeret Kasunanan Surakarta untuk terlibat dalam peperangan dengan alasan bahwa wilayah Bagelen adalah bagian dari Kasunanan Surakarta sehingga tidak selayaknya dikuasai oleh Diponegoro. Hasutan tersebut membuat Paku Buwono VI sebagai pemimpin Kraton untuk mengambil tindakan dengan memberangkatkan pasukan dengan yang dipimpin Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke tanah Bagelen, Kusumoyudo memohon kepada Paku Buwono VI agar sahabatnya Reso Diwiryo untuk mendampingi dirinya sebagai penunjuk jalan karena Reso Diwiryo dilahirkan di tanah Bagelen sehingga dianggap menguasai medan, kemudian Reso Diwiryo diangkat menjadi Senopati Pengamping. Akhirnya belanda dapat mendesak mundur pasukan Diponegoro karena ada bala bantuan dari pasukan Kraton Surakarta.
Atas jasanya tersebut pada tahun 1828 Reso Diwiryo diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan pada oleh Paku Buwono VI dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo dan mendapat Siti Lenggah sebesar 500 Bau (350 hektare).
Pada tahun 1830 belanda berhasil menangkap Diponegoro di Magelang dengan cara menipu yaitu mengajak berunding untuk perdamaian namun Diponegoro malah ditangkap dan diasingkan ke Makasar.
Paska tertangkapnya Diponegoro segera dilakukan pembenahan antara pemerintahan Belanda, Yogyakarta dan Surakarta. Reso Diwiryo kemudian diangkat menjadi Bupati Brengkelan. Reso Diwiryo kemudian bergelar Raden Adipati Aryo Cokronegoro. Pada tanggal 18 Desember 1830 atas usulan Reso Diwiryo maka Brengkelan diganti menjadi Purworejo yang berarti awal kemakmuran dan kemudian pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasar Surat Keputusan dari Gubernur Hindia Belanda dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah Bupati Purworejo oleh KH Baharudin.
Gedung Kesenian Sarwo Edhi Wibowo Purworejo
![]() |
| Foto Gedung Kesenian Purworejo |
Jembatan Gantung Borowetan
Desa Borowetan adalah sebuah desa di ujung timur Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo yang sebagian desanya terbelah oleh sungai terbesar di Kabupaten Purworejo yaitu Kali Bogowonto dan di desa ini juga tempat ditemukannya Kayu Arahiwang yaitu sebuah prasasti yang menceritakan tentang awal mula berdirinya Kabupaten Purworejo.
Sebagian besar wilayah desa ini berada di timur sungai, namun pusat pemerintahan (Balai Desa) berada di barat sungai, sehingga untuk menuju balai desa warga harus memutar lewat jembatan di Baledono atau jembatan di Purwodadi yang jaraknya bisa 10 kali lipat.
Sebagian besar wilayah desa ini berada di timur sungai, namun pusat pemerintahan (Balai Desa) berada di barat sungai, sehingga untuk menuju balai desa warga harus memutar lewat jembatan di Baledono atau jembatan di Purwodadi yang jaraknya bisa 10 kali lipat.
Pantai Jatimalang, Tempat Wisata atau Tempat Pelelangan Ikan ?
Salah satu pantai andalan Purworejo selain Ketawang adalah pantai Jatimalang, pantai ini letaknya relatif lebih dekat dengan pusat kota lebih kurang 20 km ke arah selatan pusat kota Purworejo tepatnya berada di ujung selatan kecamatan Purwodadi (berbatasan dengan Australia...masih jauh!!!).

Gambar Aula dan TPI di Pantai JatimalangMeskipun akses menuju pantai ini lebih mudah dibandingkan dengan ke pantai Ketawang namun saat liburan, misalnya lebaran, pengunjung tetap lebih banyak ke pantai Ketawang, mungkin karena pantai Ketawang lebih dikenal masyarakat Purworejo dan sekitarnya.
Pantai Jatimalang sebelumnya adalah pantai tempat berkumpulnya nelayan untuk berlayar dan berlabuh, artinya tempat ini adalah tempat untuk menjual ikan hasil tangkapan. Seiring dengan kebutuhan hiburan yang semakin meningkat maka pemda menata tempat ini agar tak hanya sebagai TPI (Tempat pelelangan Ikan) saja, melainkan sebagai tempat hiburan dan wisata.
Saat ini pantai Jatimalang sudah disertai tempat semacam cafe berkaraoke untuk sekedar berbincang-bincang dan makan, ada juga menara pandang untuk melihat keindahan hamparan pantai.
Beberapa gasebo didirikan di tepi pantai sehingga banyak muda-mudi memanfaatkan tempat ini untuk memadu kasih, tak ayal lagi para pembeli ikan walaupun tempatnya agak berjauhan dapat mengintip aktifitas anak muda di tempat yang eksotik ini.
Untuk sekedar bercengkerama sekeluarga, di tempat ini juga tersedia aula terbuka yang lumayan luas.
Jadi, selain untuk berbelanja ikan murah, pantai Jatimalang merupakan alternatif tempat wisata murah meriah untuk warga sekitar Purworejo.

Gambar Aula dan TPI di Pantai Jatimalang
Pantai Jatimalang sebelumnya adalah pantai tempat berkumpulnya nelayan untuk berlayar dan berlabuh, artinya tempat ini adalah tempat untuk menjual ikan hasil tangkapan. Seiring dengan kebutuhan hiburan yang semakin meningkat maka pemda menata tempat ini agar tak hanya sebagai TPI (Tempat pelelangan Ikan) saja, melainkan sebagai tempat hiburan dan wisata.
Saat ini pantai Jatimalang sudah disertai tempat semacam cafe berkaraoke untuk sekedar berbincang-bincang dan makan, ada juga menara pandang untuk melihat keindahan hamparan pantai.
Beberapa gasebo didirikan di tepi pantai sehingga banyak muda-mudi memanfaatkan tempat ini untuk memadu kasih, tak ayal lagi para pembeli ikan walaupun tempatnya agak berjauhan dapat mengintip aktifitas anak muda di tempat yang eksotik ini.
Untuk sekedar bercengkerama sekeluarga, di tempat ini juga tersedia aula terbuka yang lumayan luas.
Jadi, selain untuk berbelanja ikan murah, pantai Jatimalang merupakan alternatif tempat wisata murah meriah untuk warga sekitar Purworejo.
Benowo, Aset Wisata Yang Belum Terjamah
Mungkin tak semua bloger Purworejo mengetahui keberadaan desa Benowo yaitu desa di ujung timur-utara (timur laut) kabupaten Purworejo, tepatnya di kecamatan Bener. Desa ini berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Magelang.
Jalan aspal yang mulai rusak dan menanjak tajam serta dikelilingi tebing curam adalah satu-satunya akses ke dalam desa ini, tepatnya 10 km dari Kaliboto ke arah timur.
Pemandangan alam saat menuju desa ini sangat indah sekali, bukit-bukit yang meruncing dikelilingi kabut tipis dan hawa dingin yang menerpa membuat jiwa menjadi segar, sangat cocok untuk tempat refreshing.
Ketika anda berada di desa ini, anda tak akan menyangka bahwa Purworejo juga mempunyai tempat sedingin pegunungan. Air pancuran seperti es, dengan kabut menyelimuti saat hari mulai sore, pokoknya wisata banget deh...
Desa ini juga penghasil cengkeh terbesar di Kabupaten Purworejo, ratusan pohon cengkeh tumbuh dengan subur di desa ini, terbilang sampai ratusan tenaga buruh pemetik cengkeh yang datang dari luar ketika musim panen cengkeh, sehingga tak heran kalau di desa ini terdapat perusahaan tempat penyulingan cengkeh.
Beberapa tempat bagus dan menarik dipunyai oleh desa ini, misalnya curug, gua dan bukit yang cocok untuk perkemahan (Gunung Kunir).
Jadi untuk dijadikan desa wisata atau hutan wisata sebenarnya Benowo sudah memenuhi syarat.
Lagi-lagi dinas berwenang setempat kurang memperhatikan aset ini.
Dilhat dari jalan yang merupakan akses satu-satunya ke desa ini saja tak diperhatikan, padahal kontribusi hasil cengkeh dari desa ini cukup besar.
Di bawah ini beberapa foto aset wisata Benowo (kiriman Mas Iwan):

Gambar Curug Seneng

Gambar Curug Benowo

Gambar Gua Damarwulan
Jalan aspal yang mulai rusak dan menanjak tajam serta dikelilingi tebing curam adalah satu-satunya akses ke dalam desa ini, tepatnya 10 km dari Kaliboto ke arah timur.
Pemandangan alam saat menuju desa ini sangat indah sekali, bukit-bukit yang meruncing dikelilingi kabut tipis dan hawa dingin yang menerpa membuat jiwa menjadi segar, sangat cocok untuk tempat refreshing.
Ketika anda berada di desa ini, anda tak akan menyangka bahwa Purworejo juga mempunyai tempat sedingin pegunungan. Air pancuran seperti es, dengan kabut menyelimuti saat hari mulai sore, pokoknya wisata banget deh...
Desa ini juga penghasil cengkeh terbesar di Kabupaten Purworejo, ratusan pohon cengkeh tumbuh dengan subur di desa ini, terbilang sampai ratusan tenaga buruh pemetik cengkeh yang datang dari luar ketika musim panen cengkeh, sehingga tak heran kalau di desa ini terdapat perusahaan tempat penyulingan cengkeh.
Beberapa tempat bagus dan menarik dipunyai oleh desa ini, misalnya curug, gua dan bukit yang cocok untuk perkemahan (Gunung Kunir).
Jadi untuk dijadikan desa wisata atau hutan wisata sebenarnya Benowo sudah memenuhi syarat.
Lagi-lagi dinas berwenang setempat kurang memperhatikan aset ini.
Dilhat dari jalan yang merupakan akses satu-satunya ke desa ini saja tak diperhatikan, padahal kontribusi hasil cengkeh dari desa ini cukup besar.
Di bawah ini beberapa foto aset wisata Benowo (kiriman Mas Iwan):

Gambar Curug Seneng

Gambar Curug Benowo

Gambar Gua Damarwulan
PUNTHUK, Bumi Perkemahan Yang Tidak Terawat
Iseng-iseng penulis berkunjung ke seorang teman yang notabene adalah seorang pengajar di sebuah SMP di Purworejo, ternyata dia sedang mempersiapkan acara di sekolahnya yaitu 'widegame pramuka' yang acaranya akan dilaksanakan minggu depan di daerah Punthuk kelurahan Kedungsari. Hari itu dia akan menengok tempat tersebut untuk melihat keadaan, kondisi dan situasi, karena tak ada acara penulis pun ikut serta.
Punthuk sebenarnya sudah tak asing bagi penulis, karena dulu waktu penulis SMP juga pernah camping di bukit kecil tersebut. Letaknya sebenarnya tak jauh dari kota, kira-kira cuma 2 km sebelah timur Kelurahan Pangen jika lewat Bendung Boro, cuma lewat Bendung Boro hanya bisa dilewati roda 2 (sepada/motor, bukan gerobak lho, apalagi dokar jelas nggak muat jalannya!) sehingga untuk menuju ke Punthuk kalau membawa mobil/truk/bus harus memutar lewat pantok ke timur kemudian ke selatan.
Ketika sampai di tempat tersebut, ternyata sekarang kelihatan lebih rimbun, banyak pohon yang sudah besar tapi terkesan kotor. Kelihatan tidak ada perawatan secara intensif. Padahal tempat kebutuhan MCK sudah komplit dari tempat buang air (wc) sampai air kran bersih juga ada, kalau wc-nya penuh ya ke kali Bogowonto aja, kan dekat, aula juga tersedia. Pokoknya memenuhi syarat untuk camping. Dulu kira-kira tahun 1997, Punthuk pernah dijadikan acara Perkemahan Nasional.
Jadi menurut penulis Punthuk sebenarnya memenuhi syarat standar nasional sebagai bumi perkemahan dan akses menuju ke sana pun sudah di aspal. Namun sayang tempat tersebut terkesan tak terurus, buktinya penulis lihat aula yang sangat kotor dengan atap yang rusak, dengan rumput liar yang tumbuh di sana-sini, bahkan lapangan banyak ditumbuhi alang-alang. Tak jarang tempat tersebut kalau di hari libur(minggu) dijadikan tempat pacaran muda-mudi karena tidak adanya penjagaan dari yang berwenang sehingga siapapun dapat masuk ke area tersebut, tak terkecuali para pencari rumput dan para penggembala kambing.
Semestinya pihak yang berwenang (pemda) memperhatikan salah satu asset Purworejo ini, jika tempat ini bersih dan menarik pasti banyak yang berkunjung dan menggunakan untuk berbagai acara, ini kan peluang untuk menghasilkan rejeki.
Oh ya, mohon maaf saat penulis ke Punthuk tak membawa kamera jadi gambarnya belum ada nih, kapan-kapan kita ke sana lagi untuk foto-fotoan, siapa tahu ada penampakan...hi....
Punthuk sebenarnya sudah tak asing bagi penulis, karena dulu waktu penulis SMP juga pernah camping di bukit kecil tersebut. Letaknya sebenarnya tak jauh dari kota, kira-kira cuma 2 km sebelah timur Kelurahan Pangen jika lewat Bendung Boro, cuma lewat Bendung Boro hanya bisa dilewati roda 2 (sepada/motor, bukan gerobak lho, apalagi dokar jelas nggak muat jalannya!) sehingga untuk menuju ke Punthuk kalau membawa mobil/truk/bus harus memutar lewat pantok ke timur kemudian ke selatan.
Ketika sampai di tempat tersebut, ternyata sekarang kelihatan lebih rimbun, banyak pohon yang sudah besar tapi terkesan kotor. Kelihatan tidak ada perawatan secara intensif. Padahal tempat kebutuhan MCK sudah komplit dari tempat buang air (wc) sampai air kran bersih juga ada, kalau wc-nya penuh ya ke kali Bogowonto aja, kan dekat, aula juga tersedia. Pokoknya memenuhi syarat untuk camping. Dulu kira-kira tahun 1997, Punthuk pernah dijadikan acara Perkemahan Nasional.
Jadi menurut penulis Punthuk sebenarnya memenuhi syarat standar nasional sebagai bumi perkemahan dan akses menuju ke sana pun sudah di aspal. Namun sayang tempat tersebut terkesan tak terurus, buktinya penulis lihat aula yang sangat kotor dengan atap yang rusak, dengan rumput liar yang tumbuh di sana-sini, bahkan lapangan banyak ditumbuhi alang-alang. Tak jarang tempat tersebut kalau di hari libur(minggu) dijadikan tempat pacaran muda-mudi karena tidak adanya penjagaan dari yang berwenang sehingga siapapun dapat masuk ke area tersebut, tak terkecuali para pencari rumput dan para penggembala kambing.
Semestinya pihak yang berwenang (pemda) memperhatikan salah satu asset Purworejo ini, jika tempat ini bersih dan menarik pasti banyak yang berkunjung dan menggunakan untuk berbagai acara, ini kan peluang untuk menghasilkan rejeki.
Oh ya, mohon maaf saat penulis ke Punthuk tak membawa kamera jadi gambarnya belum ada nih, kapan-kapan kita ke sana lagi untuk foto-fotoan, siapa tahu ada penampakan...hi....
Menengok Ke Desa Bulus
Sebenarnya tulisan tentang bulus sudah pernah saya posting di bloggerpurworejo dan saya ingin posting kembali di blog ini karena blog ini juga bertema Purworejo, langsung copas aja yah:
Pernahkah sobat blogger sekalian mendengar nama sebuah desa yaitu Bulus ? Desa ini adalah adalah tempat kelahiran nenek moyang saya (bukan bermaksud promosi)yaitu terletak di Kecamatan Gebang, tepatnya di sebelah utara kota Purworejo lebih kurang 3 km dari arah kota Purworejo. Desa ini berada di pojok timur dan selatan Kecamatan Gebang karena sebelah timur desa ini adalah Desa Kalinongko yang menjadi bagian dari Kecamatan Loano sedangkan sebelah selatan Desa Bulus adalah Kelurahan Mranti yang menjadi bagian dari Kecamatan Purworejo.(lihat:http://id.wikipedia.org/wiki/Bulus,_Gebang,_Purworejo) Keadaan alam di desa ini berhawa sejuk karena daerahnya yang masih berbukit-bukit dengan pepohonan yang masih rindang, ketika anda mulai memasuki desa ini akan terkesan seperti desa terpencil, karena jalurnya yang sepi walaupun jalannya sudah Hotmix .
Namun akan lain kalau anda sudah berada di dalamnya, desa ini terkesan istimewa, misalnya terdapatnya makam Bupati I Purworejo yaitu Cokronegoro 1, makam tersebut adalah makam para pejabat kabupaten (ningrat) jaman dahulu. Makam tersebut sama sekali jauh dari kesan angker karena sering kedatangan para peziarah baik dari keluarga kraton atau dari masyarakat biasa karena makam tersebut sampai sekarang masih digunakan untuk penguburan baik untuk masyarakat Bulus sendiri juga untuk keluarga dari para kyai pondok pesantren Berjan.
Makam tersebut pernah dijadikan acara reality show dari sebuah stasiun televisi yaitu untuk acara uji nyali. Di makam ini ada fasilitas kamar mandi dan mushola beserta perlengkapannya sehingga akan nyaman jika anda ingin berziarah ke makam ini. Saya sering berkunjung ke makam ini karena simbah saya memang dimakamkan di sini. Di makam ini juga terdapat ruang untuk parkir mobil atau tempat untuk sekedar duduk-duduk saja menikmati pemandangan dan hawa pegunungan yang sejuk. Dan yang terpenting kunjungan ke makam ini tanpa dikenai biaya sedikitpun, apalagi kalau mengajak saya pasti dijamin gratis dan mendapat suguhan wedang macit ala kadarnya jika mampir ke gubug peninggalan simbah saya. Tapi mohon maaf untuk postingan ini tanpa persiapan foto(menyusul).
Hal istimewa lagi yang ada di desa Bulus adalah adanya danau kecil sebesar kolam renang arta tirta, masyarakat setempat menyebutnya ‘Beji’. Sampai saat ini debit airnya tak berkurang. Pada waktu saya kecil, beji sebagai tempat bermain langen (renang) karena memang airnya yang segar dan jernih. Jadi secara otomatis anak-anak di Desa Bulus pasti mahir berenang karena mempunyai kolam renang alamiah. Namun untuk saat ini beji sudah tidak sebgai tempat berenang karena airnya semakin banyak yang mengkonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, hal ini bisa dilihat dari banyaknya mesin pompa listrik yang mengambil air dari beji. (mohon maaf foto ‘beji’ menyusul)
Goa Seplawan, Pesona Alam Yang Mengagumkan
Ditulis Oleh: Budi Seplawan
Pegunungan Menoreh membentang dari kabupaten Kulon Progo D.I. Yogyakarta hingga kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Proses evolusi alam selama berjuta-juta tahun itu telah membentuk permukaan pegunungan purba itu sedemikian rupa sehingga menghadirkan keajaiban panorama alam. Pada beberapa puncak-puncak pegunungan tersebut terdapat sejumlah goa alam yang sangat menawan dan salah satunya adalah goa Seplawan di Purworejo. Sedangkan lainnya ada di Kulon Progo yaitu goa Kiskendo juga ada goa Silumbu, goa Silawang dan goa Gong. Ketiga goa itu semuannya terdapat di daerah Purworejo.
Goa Seplawan adalah satu-satunya goa di Purworejo yang sudah dijadikan obyek wisata. Goa ini tepatnya berada di desa Donorejo,kecamatan Kaligesing sekitar 40 kilometer ke timur dari pusat kota.
Goa Seplawan itu merupakan satu situs yang sangat bernilai tinggi. Sebab, goa yang ditemukan pada 15 Agustus 1979 itu di salah satu sudut goa ditemukan sebuah arca emas 22 karat setinggi 9 cm dengan berat 1,5 kg. Arca itu berupa patung sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan. Para ahli arkeolog meyakini bahwa patung itu adalah Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Arca itu merupakan peninggalan pada zaman Hindu Siwa. Kini arca tersebut disimpan di Museum Nasional. Sebagai gantinya , Pemerintah membangun replika arca didepan mulut goa, replika itu ukurannya lebih besar dari yang sebenarnya sehingga menyerupai monumen.

Selain memiliki keistimewaan sebagai situs pra sejarah ada keistimewaan lainnya yaitu keindahan goa Seplawan itu sendiri. Goa itu memiliki ornamen-ornamen yang sangat indah dan mengagumkan seperti adanya stalaktit dan stalakmit dengan ukuran beraneka ragam. Ornamen lainnya pun tak kalah menariknya seperti Flow stone, helektit, soda straw, gowerdam dan lain-lain.
Goa Seplawan mempunyai panjang sekitar 700 Meter sedangkan cabang-cabang goa sekitar 150-300 meter. Jalur yang khusus untuk para pengunjung sudah ada penerangan lampu sedangkan untuk cabang-cabang goa tidak dipasang lampu karena kondisinya yang berlumpur. Sehingga ada yang memberi nama cabang goa itu dengan istilah "istana lumpur" karena saking banyaknya lumpur.
Lokasi obyek wisata Goa Seplawan sudah dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasana seperti kamar mandi/WC, Mushola kecil yang sederhana, Gashebo, Gardu Pandang dan juga ada taman-taman bunga yang indah. Pemandangan disekitar goa seplawan sangat indah selain itu udaranya juga sejuk karena kawasan ini berada di ketinggian sekitar 800 mdpl. Melalui gardu pandang pengunjung bisa melihat pantai selatan, kota Kulon Krogo, serta Waduk Sermo. Bahkan jika naik ke salah satu bukit di kawasan goa itu, pengunjung bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan Sindoro dan juga Gunung Slamet. Namun, gunung-gunung itu hanya bisa dilihat pada pagi hari. Maka, banyak para pengunjung yang
camping di Seplawan sehingga pada pagi harinya bisa melihat keindahan alam dari kawasan Seplawan itu.
Saat ini segmen pengunjung masih didominasi dari kalangan muda dan sedikit dari orang tua. Mereka berasal dari daerah Purworejo dan sekitarnya. Pengunjung Goa Seplawan masih sangat sedikit. Hal ini karena lokasinya yang jauh dari pusat kota dan kawasan Seplawan itu masih terlalu sederhana. Dan ini menjadi pekerjaan rumah pemda untuk mengembangkan obyek wisata mengingat Goa Seplawan memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi sejarah dan keindahan alamnya. Sehingga nantinya dengan pengembangan obyek Goa Seplawan itu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ).
Purworejo: 23 Maret 2009
Pegunungan Menoreh membentang dari kabupaten Kulon Progo D.I. Yogyakarta hingga kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Proses evolusi alam selama berjuta-juta tahun itu telah membentuk permukaan pegunungan purba itu sedemikian rupa sehingga menghadirkan keajaiban panorama alam. Pada beberapa puncak-puncak pegunungan tersebut terdapat sejumlah goa alam yang sangat menawan dan salah satunya adalah goa Seplawan di Purworejo. Sedangkan lainnya ada di Kulon Progo yaitu goa Kiskendo juga ada goa Silumbu, goa Silawang dan goa Gong. Ketiga goa itu semuannya terdapat di daerah Purworejo.
Goa Seplawan adalah satu-satunya goa di Purworejo yang sudah dijadikan obyek wisata. Goa ini tepatnya berada di desa Donorejo,kecamatan Kaligesing sekitar 40 kilometer ke timur dari pusat kota.Goa Seplawan itu merupakan satu situs yang sangat bernilai tinggi. Sebab, goa yang ditemukan pada 15 Agustus 1979 itu di salah satu sudut goa ditemukan sebuah arca emas 22 karat setinggi 9 cm dengan berat 1,5 kg. Arca itu berupa patung sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan. Para ahli arkeolog meyakini bahwa patung itu adalah Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Arca itu merupakan peninggalan pada zaman Hindu Siwa. Kini arca tersebut disimpan di Museum Nasional. Sebagai gantinya , Pemerintah membangun replika arca didepan mulut goa, replika itu ukurannya lebih besar dari yang sebenarnya sehingga menyerupai monumen.

Selain memiliki keistimewaan sebagai situs pra sejarah ada keistimewaan lainnya yaitu keindahan goa Seplawan itu sendiri. Goa itu memiliki ornamen-ornamen yang sangat indah dan mengagumkan seperti adanya stalaktit dan stalakmit dengan ukuran beraneka ragam. Ornamen lainnya pun tak kalah menariknya seperti Flow stone, helektit, soda straw, gowerdam dan lain-lain.
Goa Seplawan mempunyai panjang sekitar 700 Meter sedangkan cabang-cabang goa sekitar 150-300 meter. Jalur yang khusus untuk para pengunjung sudah ada penerangan lampu sedangkan untuk cabang-cabang goa tidak dipasang lampu karena kondisinya yang berlumpur. Sehingga ada yang memberi nama cabang goa itu dengan istilah "istana lumpur" karena saking banyaknya lumpur.
Lokasi obyek wisata Goa Seplawan sudah dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasana seperti kamar mandi/WC, Mushola kecil yang sederhana, Gashebo, Gardu Pandang dan juga ada taman-taman bunga yang indah. Pemandangan disekitar goa seplawan sangat indah selain itu udaranya juga sejuk karena kawasan ini berada di ketinggian sekitar 800 mdpl. Melalui gardu pandang pengunjung bisa melihat pantai selatan, kota Kulon Krogo, serta Waduk Sermo. Bahkan jika naik ke salah satu bukit di kawasan goa itu, pengunjung bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan Sindoro dan juga Gunung Slamet. Namun, gunung-gunung itu hanya bisa dilihat pada pagi hari. Maka, banyak para pengunjung yang
camping di Seplawan sehingga pada pagi harinya bisa melihat keindahan alam dari kawasan Seplawan itu.Saat ini segmen pengunjung masih didominasi dari kalangan muda dan sedikit dari orang tua. Mereka berasal dari daerah Purworejo dan sekitarnya. Pengunjung Goa Seplawan masih sangat sedikit. Hal ini karena lokasinya yang jauh dari pusat kota dan kawasan Seplawan itu masih terlalu sederhana. Dan ini menjadi pekerjaan rumah pemda untuk mengembangkan obyek wisata mengingat Goa Seplawan memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi sejarah dan keindahan alamnya. Sehingga nantinya dengan pengembangan obyek Goa Seplawan itu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ).
Purworejo: 23 Maret 2009
Objek Wisata Hutan Purworejo
Barangkali belum banyak yang tahu kendatipun warga Purworejo asli selain Jatimalang, Gua Seplawan, Curug Bruno, Curug Sumongari, Purworejo mempunyai potensi wisata alam hutan. Yaitu wisata alam dan bumi perkemahan Kusumo Asri di Desa Mayungsari Kecamatan Bener. Kusumo Asri sangat representatif untuk kegiatan outbond dan adventure karena bentuk tanah yang terasiring dengan tumbuhan pinus yang lebat.
Di tempat ini juga terdapat kebun binatang kecil dengan koleksi buaya, burung, kera dan trenggiling.
Selanjutnya area persemaian bibit yang cocok untuk wisata pertanian. Terdapat juga kolam pemancingan dengan ikan gurameh, bawal, nila dan lele.
Di sini juga terdapat aula rapat, wisma lengkap dengan kamar dan MCK.
Namun sayang akses ke objek wisata ini masih kurang diperhatikan oleh Perum Perhutani, terbukti dengan jalan ke objek wisata ini sepanjang 1,5 km yang cuma sebagian diaspal , itu pun sekarang sudah rusak. Selain itu fasilitas dasar yang penting sekali yaitu listrik belum ada.
Di tempat ini juga terdapat kebun binatang kecil dengan koleksi buaya, burung, kera dan trenggiling.
Selanjutnya area persemaian bibit yang cocok untuk wisata pertanian. Terdapat juga kolam pemancingan dengan ikan gurameh, bawal, nila dan lele.
Di sini juga terdapat aula rapat, wisma lengkap dengan kamar dan MCK.
Namun sayang akses ke objek wisata ini masih kurang diperhatikan oleh Perum Perhutani, terbukti dengan jalan ke objek wisata ini sepanjang 1,5 km yang cuma sebagian diaspal , itu pun sekarang sudah rusak. Selain itu fasilitas dasar yang penting sekali yaitu listrik belum ada.

.jpg)

