Custom Search

Purworejo Menjadi Bagian Daerah Istimewa Yogyakarta, Mungkinkah?

Wacana Kabupaten Purworejo ingin menjadi bagian dari Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta muncul kali pertama pada saat dialog terbuka pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Purworejo 2015 yang digelar oleh Forum Komunikasi Lintas Antar Partai Politik (FORLAP) di gedung wanita pada Bulan November 2015 yang dilontarkan oleh seorang pemuda: Suluh Allan Fatchan Gani Wardana dari Presidium ORMAS, yang akhirnya berita tersebut menyebar ke masyarakat sehingga berkembang menjadi wacana yang menarik perhatian sekaligus trending topic di jejaring sosial.
Menurut pendapat penulis yang notabene mencari nafkah di Yogyakarta sehingga wira-wiri Yogya-Purworejo (lajoners), penulis dapat mengetahui kesenjangan antara DIY-Jateng via Purworejo terutama dari segi jalan (sebelum tahun 2013). Ketika berangkat dari Yogya naik bus kemudian tertidur maka otomatis nanti kalau terbangun karena jalan berlubang-lubang maka itu sebagai tanda sudah masuk ke daerah Purworejo, tentu kelakar ini ada benarnya karena faktanya jalan Yogya mulus sementara jalan Purworejo rusak tak terawat walaupun sama-sama merupakan jalan arteri (utama).
Yang pasti, wacana yang masih sebatas kelakar ini dapat diapresiasi oleh masyarakat Purworejo secara cepat karena masyarakat merasa pembangunan di Purworejo berjalan stagnan, perubahan-perubahan yang membuat greget ekonomi tak terlihat secara nyata dan tak berarti sehingga penulis yakin sebagian besar masyarakat Purworejo merasa jika ikut DIY akan lebih baik, jika kemudian diadakan survey kemungkinan besar dimenangkan bergabung ke Yogyakarta. Namun apakah birokrasi akan semudah itu? penulis rasa jelas tidak!.Penggabungan daerah melibatkan banyak pihak baik institusi, hukum, sejarah, fakta dan sebagainya. Tapi akhirnya semuanya hanya tunggu waktu...
Menurut penulis, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah seharusnya lebih perhatian terhadap daerah-daerah sensitif semisal Purworejo yang merupakan batas propinsi, karena sudah diketahui oleh umum bahwa DIY menjadi ikon pariwisata negara setelah Bali sementara Purworejo menempel di Propinsi Yogya sehingga peluang untuk mendapatkan wisatawan lebih besar dibandingkan daerah lain yang jauh dari pusat pariwisata. Momen ini tak dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah, terbukti banyak tempat wisata seperti Gua Seplawan, Curug Muncar, Pantai Jatimalang, Hutan Wisata Bener dan masih banyak lagi yang tidak terawat apalagi dipromosikan sehingga Purworejo tak mendapatkan penghasilan yang signifikan dari sektor wisata ini.
Terlepas dari wacana bahwa Purworejo akan menjadi bagian DIY tersebut benar-benar akan terealisasi atau tidak tetapi gagasan yang berani ini tercetus karena masyarakat Purworejo merasa bahwa pemerintah di atasnya yaitu propinsi Jawa Tengah tidak perhatian. Buktinya pasar Baledono yang rusak akibat terbakar beberapa tahun yang lalu, dibiarkan tanpa ada penyelesaian mau diapakan, padahal pasar Baledono adalah pusat perekonomian di Kab Purworejo. Orang Purworejo menurut penulis tentu lebih senang jika menjadi bagian dari Yogyakarta karena mau ke pusat propinsi menjadi dekat,sementara ke Semarang jauhnya tiga kali lipat. Saat ini banyak masyarakat Purworejo yang mencari nafkah ke Yogyakarta, baik menjadi Pedagang, Guru, TNI, Polri, BUMN, Dosen, Karyawan dan sebagainya, ini sudah dibuktikan oleh penulis sendiri karena notabene penulis adalah lajon naik bus dan mereka adalah teman-teman penulis yang naik bus bersamaan dari Bosko Borokulon menuju Yogyakarta.
Di masyarakat Purworejo sendiri adalah menjadi kebanggaan tersendiri jika dianggap sebagai "Wong Jogja" sehingga jika survei dilakukan kepada masyarakat Purworejo mengenai gabung DIY atau tetap di Jateng, maka penulis yakin masyarakat Purworejo mayoritas memilih ikut gabung DIY.


14 Desember 2015
Posted by Yoyok Rohani

Rumah Idaman Investasi Masa Depan di Purworejo

Kalau anda ke Purworejo dari arah timur maka ketika akan masuk batas kota akan terlihat iklan yang berisi tentang ajakan kepada para investor untuk berinvestasi di Purworejo dengan birokrasi yang mudah. Memang, dari dahulu kala Purworejo tak tersentuh industri, beberapa perusahaan besar ingin membuat pabrik di Purworejo namun tak terealisasi karena rakyat tak menghendaki sawahnya untuk dibeli sehingga pabrik tak jadi berdiri. Namun demikian perusahaan rokok HM Sampoerna berhasil mendirikan pabrik di daerah yang tekenal dengan kota pensiunan ini.
Peluang usaha tetap ada di Purworejo, hal ini dimanfaatkan oleh para developer untuk membangun rumah-rumah cluster yang ramah lingkungan, gayung pun bersambut, rakyat setuju dengan proyek-proyek perumahan seperti ini, kenyataanya sawah dengan mudah dijual untuk sebuah perumahan, tak seperti ketika ditawar oleh perusahaan dengan alasan nanti banyak limbah industri. Akhirnya bermunculan perumahan sebagai rumah idaman investasi masa depan, baik di persawahan dan pegunungan. Rumah idaman investasi masa depan laris bak kacang goreng di daerah ini. Terbukti di beberapa desa pasti terdapat perumahan rumah idaman investasi masa depan yang baru.
Ironisnya rumah idaman investasi masa depan banyak dimiliki oleh orang luar sekitar Purworejo, misalnya dari Yogyakarta, Kulonprogo, Kebumen, Wonosobo dan Magelang. Namun mereka memiliki rumah hanya sebagai rumah idaman investasi masa depan sehingga dikontrakkan atau sebagai kos-kosan, dan ironisnya lagi para pengontrak adalah warga pribumi yang notabene nya dalah warga Purworejo.

09 Januari 2015
Posted by cahpurworejo asli

Jadwal Imsakiyah 1434 H/2013 M Purworejo

Download Jadwal Imsakiyah
Sumber: Kementerian Agama Kabupaten Purworejo
08 Juli 2013
Posted by Yoyok Rohani

Jumlah Penduduk Purworejo Menurut BPS Jateng


sumber:http://jateng.bps.go.id
27 Juni 2013
Posted by Yoyok Rohani

Menguak Sejarah Cokronegoro Sebagai Bupati Purworejo

Ketika anda berada di Desa Bulus Kecamatan Gebang, anda akan menemui sebuah makam bersejarah yaitu makam Cokronegoro I yang diakui sebagai Bupati Purworejo yang pertama. Bagaimana perjalanan hidupnya hingga beliau dianggap sebagai pioneer di Kabupaten Purworejo?
Setelah baca sana sini dari berbagai sumber akhirnya saya mencoba menuliskan di sini sebagai arsip pribadi siapa tahu bisa sebagai bahan lamunan...eh renungan maksudnya.

Adalah seorang pemuda yang bernama Reso Diwiryo yang dilahirkan di Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi pada hari Rabu Pahing, 17 Mei 1779. Ketika remaja, Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta dengan tugas mengawasi irigasi di Ampel Boyolali, setelah beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi abdi dalem Kraton Surakarta dengan pangkat Mantri Gladhak yaitu pimpinan kantor pengurus pajak kraton. Reso Diwiryo dikenal sebagai abdi yang tekun dan cerdas, terbukti Reso Diwiryo dapat melakukan pengukuran dan pembagian Siti Lenggah (jawa: tanah bengkok) kepada para pembesar dan pangeran secara adil dan merata.
Makam Cokronegoro I
Reso Diwiryo akhirnya diangkat menjadi Penewu Gladhak dan bergelar Raden Ngabehi Reso Diwiryo. Karena ada sesuatu hal, Reso Diwiryo kemudian megundurkan diri dari pegawai kraton kemudian pulang ke Bragolan untuk melakukan Tirakat Ngluwat yaitu mengubur diri selama 40 hari.
Bertepatan dengan itu pada hari Kamis Kliwon, 7 Januari 1823 Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di Brengkelan, kemudian Diponegoro mendirikan pemerintahan di Brengkelan dan mengangkat Bupati Madyokusumo.
Belanda kewalahan menghadapi perlawanan Diponegoro sehingga menyeret Kasunanan Surakarta untuk terlibat dalam peperangan dengan alasan bahwa wilayah Bagelen adalah bagian dari Kasunanan Surakarta sehingga tidak selayaknya dikuasai oleh Diponegoro. Hasutan tersebut membuat Paku Buwono VI sebagai pemimpin Kraton untuk mengambil tindakan dengan memberangkatkan pasukan dengan yang dipimpin Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke tanah Bagelen, Kusumoyudo memohon kepada Paku Buwono VI agar sahabatnya Reso Diwiryo untuk mendampingi dirinya sebagai penunjuk jalan karena Reso Diwiryo dilahirkan di tanah Bagelen sehingga dianggap menguasai medan, kemudian Reso Diwiryo diangkat menjadi Senopati Pengamping. Akhirnya belanda dapat mendesak mundur pasukan Diponegoro karena ada bala bantuan dari pasukan Kraton Surakarta.
Atas jasanya tersebut pada tahun 1828 Reso Diwiryo diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan pada oleh Paku Buwono VI dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo dan mendapat Siti Lenggah sebesar 500 Bau (350 hektare).
Pada tahun 1830 belanda berhasil menangkap Diponegoro di Magelang dengan cara menipu yaitu mengajak berunding untuk perdamaian namun Diponegoro malah ditangkap dan diasingkan ke Makasar.
Paska tertangkapnya Diponegoro segera dilakukan pembenahan antara pemerintahan Belanda, Yogyakarta dan Surakarta. Reso Diwiryo kemudian diangkat menjadi Bupati Brengkelan. Reso Diwiryo kemudian bergelar Raden Adipati Aryo Cokronegoro. Pada tanggal 18 Desember 1830 atas usulan Reso Diwiryo maka Brengkelan diganti menjadi Purworejo yang berarti awal kemakmuran dan kemudian pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasar Surat Keputusan dari Gubernur Hindia Belanda dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah Bupati Purworejo oleh KH Baharudin.
25 Juni 2013
Posted by Yoyok Rohani

Copyright © 2013 Purworejo | Designed by Johanes Djogan | Support by Yoyok Rohani