Custom Search
Posted by : Yoyok Rohani 14 Desember 2015

Wacana Kabupaten Purworejo ingin menjadi bagian dari Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta muncul kali pertama pada saat dialog terbuka pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Purworejo 2015 yang digelar oleh Forum Komunikasi Lintas Antar Partai Politik (FORLAP) di gedung wanita pada Bulan November 2015 yang dilontarkan oleh seorang pemuda: Suluh Allan Fatchan Gani Wardana dari Presidium ORMAS, yang akhirnya berita tersebut menyebar ke masyarakat sehingga berkembang menjadi wacana yang menarik perhatian sekaligus trending topic di jejaring sosial.
Menurut pendapat penulis yang notabene mencari nafkah di Yogyakarta sehingga wira-wiri Yogya-Purworejo (lajoners), penulis dapat mengetahui kesenjangan antara DIY-Jateng via Purworejo terutama dari segi jalan (sebelum tahun 2013). Ketika berangkat dari Yogya naik bus kemudian tertidur maka otomatis nanti kalau terbangun karena jalan berlubang-lubang maka itu sebagai tanda sudah masuk ke daerah Purworejo, tentu kelakar ini ada benarnya karena faktanya jalan Yogya mulus sementara jalan Purworejo rusak tak terawat walaupun sama-sama merupakan jalan arteri (utama).
Yang pasti, wacana yang masih sebatas kelakar ini dapat diapresiasi oleh masyarakat Purworejo secara cepat karena masyarakat merasa pembangunan di Purworejo berjalan stagnan, perubahan-perubahan yang membuat greget ekonomi tak terlihat secara nyata dan tak berarti sehingga penulis yakin sebagian besar masyarakat Purworejo merasa jika ikut DIY akan lebih baik, jika kemudian diadakan survey kemungkinan besar dimenangkan bergabung ke Yogyakarta. Namun apakah birokrasi akan semudah itu? penulis rasa jelas tidak!.Penggabungan daerah melibatkan banyak pihak baik institusi, hukum, sejarah, fakta dan sebagainya. Tapi akhirnya semuanya hanya tunggu waktu...
Menurut penulis, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah seharusnya lebih perhatian terhadap daerah-daerah sensitif semisal Purworejo yang merupakan batas propinsi, karena sudah diketahui oleh umum bahwa DIY menjadi ikon pariwisata negara setelah Bali sementara Purworejo menempel di Propinsi Yogya sehingga peluang untuk mendapatkan wisatawan lebih besar dibandingkan daerah lain yang jauh dari pusat pariwisata. Momen ini tak dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah, terbukti banyak tempat wisata seperti Gua Seplawan, Curug Muncar, Pantai Jatimalang, Hutan Wisata Bener dan masih banyak lagi yang tidak terawat apalagi dipromosikan sehingga Purworejo tak mendapatkan penghasilan yang signifikan dari sektor wisata ini.
Terlepas dari wacana bahwa Purworejo akan menjadi bagian DIY tersebut benar-benar akan terealisasi atau tidak tetapi gagasan yang berani ini tercetus karena masyarakat Purworejo merasa bahwa pemerintah di atasnya yaitu propinsi Jawa Tengah tidak perhatian. Buktinya pasar Baledono yang rusak akibat terbakar beberapa tahun yang lalu, dibiarkan tanpa ada penyelesaian mau diapakan, padahal pasar Baledono adalah pusat perekonomian di Kab Purworejo. Orang Purworejo menurut penulis tentu lebih senang jika menjadi bagian dari Yogyakarta karena mau ke pusat propinsi menjadi dekat,sementara ke Semarang jauhnya tiga kali lipat. Saat ini banyak masyarakat Purworejo yang mencari nafkah ke Yogyakarta, baik menjadi Pedagang, Guru, TNI, Polri, BUMN, Dosen, Karyawan dan sebagainya, ini sudah dibuktikan oleh penulis sendiri karena notabene penulis adalah lajon naik bus dan mereka adalah teman-teman penulis yang naik bus bersamaan dari Bosko Borokulon menuju Yogyakarta.
Di masyarakat Purworejo sendiri adalah menjadi kebanggaan tersendiri jika dianggap sebagai "Wong Jogja" sehingga jika survei dilakukan kepada masyarakat Purworejo mengenai gabung DIY atau tetap di Jateng, maka penulis yakin masyarakat Purworejo mayoritas memilih ikut gabung DIY.



{ 1 komentar... read them below or add one }

Copyright © 2013 Purworejo | Designed by Johanes Djogan | Support by Yoyok Rohani