Custom Search

Tampilkan postingan dengan label aset. Tampilkan semua postingan

Danang, Pengendang Cilik dari Popongan

Kelompok seni tradisi jaran kepang dari Desa Popongan Kecamatan Banyuurip Kab Purworejo yang bernama Turonggo Tresno Budoyo ternyata mempunyai pengendang cilik yang cukup mahir, terbukti dalam beberapa pementasan, Danang, nama dari pengendang cilik tersebut, dapat mengikuti pementasan sampai selesai. Videonya dapat dilihat di sini

17 Mei 2013
Posted by Anonim

Jadwal Pentas Seni Tradisi di Gedung Kesenian Purworejo 2013

Pementasan seni tradisi Purworejo sebenarnya sudah dimulai sejak 20 April 2013, walaupun telat mudah-mudahan bermanfaat...

Hari
Tanggal
Waktu
Jenis
Asal
Rabu
8 Mei 2013
14.00 - 17.00
Kuda Kepang Turonggo Mudo
Surorejo, Banyuurip
Sabtu
11 Mei 2013
14.00 - 17.00
Dolalak
Jati Kusumo
Katerban Kutoarjo
Rabu
15 Mei 2013
14.00 - 17.00
Ande-ande Lumut Cipto Budoyo
Kemanukan Bagelen
Sabtu
18 Mei 2013
14.00 - 17.00
Kuda Kepang Krido Laras
Karang Gedang Bruno
Selasa
21 Mei 2013
14.00 - 17.00
Dolalak Dwi Lestari
Plipir Purworejo
Rabu
29 Mei 2013
14.00 - 17.00
Dolalak Asri Budaya
Karang Rejo Loano
Sabtu
1 Juni 2013
14.00 - 17.00
Kuda Kepang Turonggo Piling
Sruwoh Ngombol
Rabu
5 Juni 2013
14.00 - 17.00
Gojeg Lesung BangBung
Bandungrejo Bayan
Sabtu
8 juni 2013
14.00 - 17.00
Kuda Kepang "Gemar Budaya"
Kedung Pomahan Kulon Kemiri
Rabu
12 Juni 2013
14.00 - 17.00
Kuda Kepang Sido Dadi
Binangun Butuh
Rabu
19 Juni 2013
14.00 - 17.00
Dolalak Laras Rinenggo
Dudu Kulon Grabag
08 Mei 2013
Posted by Unknown

Gedung Kesenian Sarwo Edhi Wibowo Purworejo

Foto Gedung Kesenian Purworejo
Masyarakat Purworejo tentunya saat ini boleh berbangga, karena kota Purworejo kini telah mempunyai gedung kesenian sendiri. Gedung yang diberi nama Sarwo Edhi Wibowo ini dahulunya adalah gedung bioskop yang sudah tidak terpakai kemudian dipugar total(dibangun kembali). Gedung yang diresmikan pada tanggal 5 Januari 2013 oleh Bupati Purworejo ini rencananya akan digunakan untuk tempat pertunjukan seni dan budaya Purworejo secara rutin. Gedung yang menelan biaya sebesar 4,5 Milyar Rupiah lebih ini menambah keindahan kota purworejo dengan desain klasiknya yang terkesan bangunan kuno namun bersih. Patung Ndolalak yang berdiri di depan halaman gedung menambah keindahan tampilan gedung ini. Namun, disamping mendapatkan pujian, gedung ini juga tak luput dari kritikan dari masayarakat. Yang pertama kritikan dari orang tua siswa dalam acara gebyar budaya siswa yang menyatakan bahwa gedungnya tidak sesuai untuk gedung pertunjukan. Kemudian kritik selanjutnya berasal dari Dewan Kesenian Purworejo yang rencananya akan mengadakan pentas teater pada tanggal 30 Maret 2012 di gedung ini namun akhirnya tak jadi karena panggung dianggap terlalu sempit dan di atas panggung tak ada rangka untuk menempatkan lampu. Selain itu gedung ini juga memantulkan suara yang sangat kuat sehingga suara sangat bergema dan tidak memadai untuk pertunjukan teater, ketoprak, wayang dan sejenisnya. Menanggapi kekurangan tersebut pihak pengelola yaitu dinas pendidikan sebaiknya memaksimalkan fungsional dari gedung ini agar ke depannya gedung ini benar-benar bermanfaat dan sebagai ajang promosi wisata budaya.
11 Maret 2013
Posted by Unknown
Tag : ,

Jembatan Gantung Borowetan

Desa Borowetan adalah sebuah desa di ujung timur Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo yang sebagian desanya terbelah oleh sungai terbesar di Kabupaten Purworejo yaitu Kali Bogowonto dan di desa ini juga tempat ditemukannya Kayu Arahiwang yaitu sebuah prasasti yang menceritakan tentang awal mula berdirinya Kabupaten Purworejo.
Sebagian besar wilayah desa ini berada di timur sungai, namun pusat pemerintahan (Balai Desa) berada di barat sungai, sehingga untuk menuju balai desa warga harus memutar lewat jembatan di Baledono atau jembatan di Purwodadi yang jaraknya bisa 10 kali lipat.


19 Februari 2013
Posted by Unknown
Tag : ,

Tarian Ndolalak Purworejo

Bagi masyarakat yang berdomisili di Purworejo tarian ndolalak tentunya tak terlalu asing atau paling tidak pernah mendengar nama sebuah tarian asli khas Purworejo ini. Nama Ndolala konon berasal dari nada do la la yang pada saat itu dimainkan oleh Belanda. Hal ini tak dipungkiri bahwa Ndolala memang terinspirasi dari tarian Belanda karena dilihat dari pakaiannya seperti pakaian serdadu belanda pada jaman itu (pra kemerdekaan). Orang Purworejo ada juga yang menyebut tarian ini dengan nama 'Angguk' atau 'Jidor', mungkin karena gerakannya yang mengangguk-anggukan kepala dan musiknya menggunakan bedug kecil atau jidor.
sumber gambar:pdkpurworejo.wordpress.com

Pada mulanya tarian ndolalak adalah tarian yang dilakukan oleh para pria dengan berkostum layaknya pakaian serdadu belanda yaitu pakaian lengan panjang hitam dengan pangkat di pundak, topi pet, dan berkacamata hitam dengan gerakan seperti layaknya gerakan dansa. Dengan iringan musik yang romantis menggunakan kendang, rebana dan jidor yang disertai dengan lagu-lagu berisi syair nasihat dengan Bahasa Jawa dicampur melayu. Jumlah penarinya antara 10-14 orang dengan pengiring musiknya 10 orang. Waktu pementasan pada saat itu bisa semalam suntuk.

Konon pemain ndolalak bisa kesurupan seperti layaknya pemain kuda lumping, bahkan penonton yang menatap penari ndolalak akan terbius untuk terus menonton hingga pementasan selesai.

Seiring perkembangan jaman, iringan musik tarian ndolalak tak hanya menggunakan jidor, rebana dan kendang saja ataupun hanya menggunakan dua nada saja, tetapi saat ini tarian ndolalak sudah diiringi dengan instrumen musik 'keyboard/organ'. Penarinya pun hanya wanita-wanita muda, dengan lenggokan dan anggukan yang tentunya lebih menimbulkan kesan erotis jika dibandingkan kalau penarinya pria.

Pada saat ini masih terdapat beberapa group tarian ndolalak di Purworejo, misalnnya group ndolalak dari Desa Mlaran dan dari Desa Kaliharjo.

sumber video:youtube.com


Di bawah ini link untuk download lagu ndolalak dan juga langsung bisa diputar:
Dolalak Jarum Jarum
12 Februari 2011
Posted by Unknown

Kereta Api Bogowonto

Stasiun Kutoarjo yang merupakan stasiun kebanggaan Purworejo dari dahulu memang sudah terkenal sebagai pusat moda angkutan darat kereta api di wilayah Kedu. Terbukti Stasiun Kutoarjo menjadi salah satu stasiun tujuan utama dari ibukota. Bahkan PT KAI membuat beberapa kereta khusus untuk jurusan stasiun Kutoarjo, misalnya KA Bogowonto, kereta yang baru diluncurkan pra lebaran tahun 2010 ini adalah jenis kereta ekonomi AC dengan tarif Rp 70.000 per orang, anak-anak dan lanjut usia tarifnya Rp 56.000 per orang, sedangkan untuk veteran Rp 49.000 per orang. KA Bogowonto melayani jurusan Stasiun Senen-Stasiun Kutoarjo.
Konon dana untuk membangun KA Bogowonto ini PT INKA menghabiskan dana sebesar Rp 38,3 Milyar. Kereta ini dapat melaju dengan kecepatan 100km/jam dengan perkiraan umur penggunaan selama 25 tahun.






sumber: www.kereta-api.co.id, berbagai
08 Februari 2011
Posted by Unknown

PO Sumber Alam Dapat Rekor MURI

Perusahaan Otobus Sumber Alam yang beralamat di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo mempunyai bus yang berjuluk Limo Bus dan mendapatkan piagam rekor MURI karena telah dimodifikasi sehingga panjangnya menjadi 12,6 m dengan roda berjumlah 10 biji, sedangkan interiornya menggunakan sofa yang bisa diubah menjadi tempat tidur. Dilengkapi dengan ruang audio visual dengan sistem audio 5.1 beserta TV 42 inch yang bisa digunakan untuk menikmati film dalam perjalanan, bahkan bisa untuk kegiatan presentasi.

27 Januari 2011
Posted by Unknown
Tag :

Lagu Campursari Mengenai Purworejo



Ternyata ada beberapa lagu campursari yang berkisah tentang wisata Purworejo dan telah di upload di youtube, walaupun kota kita (Purworejo)adalah kota kecil namun ada juga yang menyempatkan diri untuk melagukan dan mengabarkan Purworejo ke dunia lewat lagu campursari. Meskipun lagu tersebut kurang diminati oleh warganya sendiri terbukti jarangnya lagu tersebut diperdengarkan di khalayak ramai, mungkin karena kemasannya yang kurang menarik dari segi nada atau pun syairnya...Tapi tak masalah, sebagai warga pribumi harus tetap bangga dengan para komposer dan seniman lokalan tersebut yang menyuarakan Purworejo dan ucapan terima kasih kepada youtube dan para uploader...
17 Mei 2010
Posted by Unknown

Terinspirasi Oleh Komputer Desktop Dari Kayu

21 April 2010
Posted by Unknown
Tag :

Benarkah Bedug Purworejo Terbesar di Dunia?

Para bloger dari Purworejo pasti tahu tentang keberadaan Bedug Purworejo atau Bedug Pendowo yang sampai saat ini keberadaanya bisa dilihat langsung di Masjid Jami Kauman Purworejo sebelah barat alun-alun Purworejo.
Bedug ini telah dianggap oleh khalayak Purworejo sebagai bedug yang terbesar di dunia.
Memang, kalau melihat tampilan langsung bedug ini, ukurannya luar biasa besar, diatas rata-rata bedug di seluruh tanah air. Lebih pantas kalau disebut sebagai bedug terbesar di Indonesia. Namun untuk terbesar di seluruh dunia nampaknya agak rancu mengingat bedug tak dimiliki oleh semua negara.
Seperti halnya mengatakan bahwa alun-alun Purworejo terluas di seluruh dunia, faktanya memang alun-alun Purworejo terluas se jawa, kenapa dikatakan terluas di seluruh dunia? Karena kata alun-alun cuma ada di Jawa jadi di negara lain tidak mungkin menggunakan kata alun-alun.
Tetapi hal di atas sebenarnya tak menjadi masalah bagi kita, yang terpenting adalah bagaimana caranya melestarikan dan mengelola aset yang merupakan peninggalan nenek moyang dan bukti sejarah sehingga generasi penerus dapat mengambil pelajaran berharga dari hasil budaya tersebut.

Gambar Bedug Purworejo

Kembali ke bedug Purworejo, menurut keterangan yang terpasang di Bedug Purworejo ini disebutkan bahwa bedug ini dibuat pada tahun 1834 M pada saat pemerintahan Bupati Cokronegoro I yang saat ini makamnya berada di Desa Bulus, dengan bahan kayu jati yang diambil dari Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi.
Dimensinya sebagai berikut:
panjang = 292 cm
garis tengah depan = 194 cm
garis tengah belakang = 180 cm
keliling bagian depan = 601 cm
keliling bagian belakang = 564 cm
jumlah paku depan = 120 buah
jumlah paku belakang = 98 buah

Gambar Data Bedug Purworejo

Menurut berbagai sumber, bedug tersebut dibuat dengan cara melobangi pohon kayu jati, jadi bedug tersebut bukan berupa sambungan kayu, terlihat dari tekstur bedug tersebut yang tidak bulat sepenuhnya, garis tengah depan dan belakang yang berbeda.
Pembuatan bedug tersebut benar-benar poyek yang luar biasa!
Jika ingin mendengar suara tabuh bedug ini maka ikutlah jumatan di masjid ini karena bedug ini ditabuh cuma pada hari jumat dan bulan ramadhan. (Gambar diambil dari budhisetyawan.wordpress.com)
01 Agustus 2009
Posted by Unknown

Pantai Jatimalang, Tempat Wisata atau Tempat Pelelangan Ikan ?

Salah satu pantai andalan Purworejo selain Ketawang adalah pantai Jatimalang, pantai ini letaknya relatif lebih dekat dengan pusat kota lebih kurang 20 km ke arah selatan pusat kota Purworejo tepatnya berada di ujung selatan kecamatan Purwodadi (berbatasan dengan Australia...masih jauh!!!).

Gambar Aula dan TPI di Pantai Jatimalang
Meskipun akses menuju pantai ini lebih mudah dibandingkan dengan ke pantai Ketawang namun saat liburan, misalnya lebaran, pengunjung tetap lebih banyak ke pantai Ketawang, mungkin karena pantai Ketawang lebih dikenal masyarakat Purworejo dan sekitarnya.

Pantai Jatimalang sebelumnya adalah pantai tempat berkumpulnya nelayan untuk berlayar dan berlabuh, artinya tempat ini adalah tempat untuk menjual ikan hasil tangkapan. Seiring dengan kebutuhan hiburan yang semakin meningkat maka pemda menata tempat ini agar tak hanya sebagai TPI (Tempat pelelangan Ikan) saja, melainkan sebagai tempat hiburan dan wisata.
Saat ini pantai Jatimalang sudah disertai tempat semacam cafe berkaraoke untuk sekedar berbincang-bincang dan makan, ada juga menara pandang untuk melihat keindahan hamparan pantai.
Beberapa gasebo didirikan di tepi pantai sehingga banyak muda-mudi memanfaatkan tempat ini untuk memadu kasih, tak ayal lagi para pembeli ikan walaupun tempatnya agak berjauhan dapat mengintip aktifitas anak muda di tempat yang eksotik ini.
Untuk sekedar bercengkerama sekeluarga, di tempat ini juga tersedia aula terbuka yang lumayan luas.

Jadi, selain untuk berbelanja ikan murah, pantai Jatimalang merupakan alternatif tempat wisata murah meriah untuk warga sekitar Purworejo.
31 Juli 2009
Posted by Unknown
Tag : ,

Benowo, Aset Wisata Yang Belum Terjamah

Mungkin tak semua bloger Purworejo mengetahui keberadaan desa Benowo yaitu desa di ujung timur-utara (timur laut) kabupaten Purworejo, tepatnya di kecamatan Bener. Desa ini berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Magelang.
Jalan aspal yang mulai rusak dan menanjak tajam serta dikelilingi tebing curam adalah satu-satunya akses ke dalam desa ini, tepatnya 10 km dari Kaliboto ke arah timur.
Pemandangan alam saat menuju desa ini sangat indah sekali, bukit-bukit yang meruncing dikelilingi kabut tipis dan hawa dingin yang menerpa membuat jiwa menjadi segar, sangat cocok untuk tempat refreshing.
Ketika anda berada di desa ini, anda tak akan menyangka bahwa Purworejo juga mempunyai tempat sedingin pegunungan. Air pancuran seperti es, dengan kabut menyelimuti saat hari mulai sore, pokoknya wisata banget deh...
Desa ini juga penghasil cengkeh terbesar di Kabupaten Purworejo, ratusan pohon cengkeh tumbuh dengan subur di desa ini, terbilang sampai ratusan tenaga buruh pemetik cengkeh yang datang dari luar ketika musim panen cengkeh, sehingga tak heran kalau di desa ini terdapat perusahaan tempat penyulingan cengkeh.
Beberapa tempat bagus dan menarik dipunyai oleh desa ini, misalnya curug, gua dan bukit yang cocok untuk perkemahan (Gunung Kunir).
Jadi untuk dijadikan desa wisata atau hutan wisata sebenarnya Benowo sudah memenuhi syarat.
Lagi-lagi dinas berwenang setempat kurang memperhatikan aset ini.
Dilhat dari jalan yang merupakan akses satu-satunya ke desa ini saja tak diperhatikan, padahal kontribusi hasil cengkeh dari desa ini cukup besar.
Di bawah ini beberapa foto aset wisata Benowo (kiriman Mas Iwan):

Gambar Curug Seneng


Gambar Curug Benowo


Gambar Gua Damarwulan
27 Juli 2009
Posted by Unknown

Purworejo "Tempo Doeloe"

Sekedar berbagi beberapa foto-foto mengenai purworejo pada masa lalu "tempo doeloe" sekaligus mengarsipkan foto-foto tersebut di blog ini.
Foto-foto tersebut diambil dari beberapa sumber di internet.
Bagi saya terus terang foto-foto tersebut membuat "nuansa lain" hingga menimbulkan perasaan "tanda tanya" tentang seperti apa Purworejo pada masa lalu. Jika melihat foto tersebut kita akan tahu bahwa kota Purworejo sudah berumur tua dan sebenarnya kota Purworejo pada masa lalu tak jauh berbeda dengan kota-kota lain yang bahkan sekarang ini menjadi kota besar.

Foto terminal bus Purworejo, yaitu berada di sebelah timur alun-alun Purworejo bagian utara. Terlihat menara PLN yang masih berdiri sampai saat ini.



Foto Masjid Agung Baiturrahman Kauman Purworejo yaitu sebelah barat alun-alun Purworejo


Foto Pendopo Kabupaten terlihat dari sebelah utara alun-alun Purworejo, tugunya sampai sekarang masih berdiri.


Menurut tulisan yang tertera di foto adalah jalan di sekitar alun-alun Purworejo, tapi entah sebelah mana, sulit untuk dibayangkan karena bentuk jalan yang belum diaspal dan pepohonan yang besar, mungkin anda tahu?

Foto stasiun Purworejo dilihat dari sebelah timur.


Gedung BRI Purworejo


Gedung Bioskop Purworejo


Gereja Protestan Purworejo


Kantor Pegawai Kabupaten Purworejo


Kantor Pos Purworejo


Klenteng Purworejo


Masjid Agung Purworejo


Kantor PAM Purworejo


Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo

Kalau ada yang punya foto-foto lainnya,boleh share di sini ya..."salam retro"
26 Juli 2009
Posted by Unknown

Ayo Kembangkan Sepak Bola Purworejo !

Email dari: toriq tyastyo <atd_rasnan@yahoo.co.id>
Tanggal: 4 Juli 2009 22:13
Subjek: Ayo Kembangkan Sepak Bola Purworejo !!!!
Ke: purworejo.asia@gmail.com


Assalamua'alaikum Wr.Wb

Saya adalah asli Purworejo yang sekarang sedang merantau di Jakarta, sedangkan isteri dan anak-anak saya berada di Purworejo.

Judul di atas sengaja saya tulis dengan harapan semoga siapa pun Anda yang membaca, khususnya Anda yang asli putra daerah Purworejo baik sedang  atau tidak sedang berdomisili di Purworejo untuk bisa tergugah hati guna membantu kemajuan daerah tercinta kita terutama lewat olah raga khususnya cabang sepak bola.

Saya sangat yakin dan seyakin-yakinnya bahwa masyarakat Purworejo sebagian besar mencintai sepak bola. Saya juga yakin bahwa sebagian Anda akan berharap agar ada anak-anak Purworejo yang kelak bisa menjadi bagian dari kemajuan sepak bola nasional kita.

Kita tahu kalau mantan pelatih Primavera dan mantan pelatih nasional kita yang sekarang melatih Persija Jakarta yaitu Danurwindo adalah asli putera Purworejo.Kita kenal Kurniawan Dwi Yuliyanto adalah anak Magelang yang tentu secara gepgrafis masih tetangga kita.......Tetapi sekarang dan masa depan tentu kita berharap agar ISP ( Ikatan Sepakbola Purworejo ) bisa maju dan Purworejo bisa melahirkan anak-anak bertalenta dalam dunia sepakbola.

Prolog di atas tentu saja hanya sekedar gambaran betapa sebetulnya kita ( baca Purworejo ) pun bisa melakukannya dengan syarat utama adalah kerjasama dan bantuan dari seluruh masyarakat Purworejo.

Pada tanggal 1 Juli 2009 yang lalu Sekolah Sepakbola Indonesia Muda kelompok umur 9 - 10 tahun mengikuti Turnamen sepak bola di Undip Semarang dan kemarin Jum'at malam rombongan pulang karena kalah 0-3 melawan Kudus di perempat final.
Dari turnamen itulah saya ditelpon oleh istri yang kebetulan ikut menemani anak sulung saya dalam turnamen tersebut.Banyak cerita-cerita miris yang sedang terjadi dalam pembinaan sepakbola di Purworejo jika dibandingkan dengan daerah lain terutama soal DANA.

Isteri cerita betapa dia ditertawai oleh ibu-ibu dareah lain karena begitu murahnya biaya menyekolahkan sepakbola anak di Purworejo.
Soal murahnya iuran tentu bukan menjadi substansi tulisan saya lewat forum ini, karena sesungguhnya saya ingin mengajak kepada Anda semua untuk kerso  melihat  dampak dan keberlanjutannya sekolah sepak bola tersebut, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan sepakbola di Purworejo.

Tentu sangat tidak etis kalau kemudian saya menulis lewat forum ini bagaimana beliau-beliau para pelatih dan ofisial SSB tersebut berkeluh kesah tentang sarana dan prasarana yang ada.kepada isteri saya.

Tulisan ini bukan berarti saya menganjurkan Anda untuk kemudian menyumbang apapun melalui saya, karena saya hanyalah seorang wali murid dari seorang anak yang sedang belajar sepakbola di SSB Purworejo.

Kepada Anda yang kebetulan tidak berdomisili di Purworejo atau jarang berada di Purworejo mungkin panjenegan bisa mirsani  setiap minggu pagi di alun-alun Purworejo sekaligus dapat bertatap muka dengan beliau-beliau para ofisial SSB.

Demikian tulisan ini saya tulis dari lubuk hati terdalam guna mengetuk hati Panjenengan  semua yang peduli terhadap perkembangan daerah kita khususnya sepakbola.

Akhir dari tulisan ini perkenankan saya tulis identitas saya sebagai berikut :
 Nama                   : Kusnan
 Asal                     : Paduroso - Purworejo
 Domisili                : Jakarta
 Domisili Keluarga  : Kledung Kradenan - Banyuurip
 Alamat Email        : atd_rasnan@yahoo.co.id
 HP                       : 0813 885 885 77

Sekali lagi ini bukan penggalangan dana dan saya tidak akan menerima sumbangan yang berupa dana maupun dalam bentuk materi apapun tetapi saya bersedia memberikan informasi kondisi sebenarnya yang ada.

Sekian dan terima kasih

Wassalamu'alaikum Wr.Wb
05 Juli 2009
Posted by Unknown
Tag :

PUNTHUK, Bumi Perkemahan Yang Tidak Terawat

Iseng-iseng penulis berkunjung ke seorang teman yang notabene adalah seorang pengajar di sebuah SMP di Purworejo, ternyata dia sedang mempersiapkan acara di sekolahnya yaitu 'widegame pramuka' yang acaranya akan dilaksanakan minggu depan di daerah Punthuk kelurahan Kedungsari. Hari itu dia akan menengok tempat tersebut untuk melihat keadaan, kondisi dan situasi, karena tak ada acara penulis pun ikut serta.
Punthuk sebenarnya sudah tak asing bagi penulis, karena dulu waktu penulis SMP juga pernah camping di bukit kecil tersebut. Letaknya sebenarnya tak jauh dari kota, kira-kira cuma 2 km sebelah timur Kelurahan Pangen jika lewat Bendung Boro, cuma lewat Bendung Boro hanya bisa dilewati roda 2 (sepada/motor, bukan gerobak lho, apalagi dokar jelas nggak muat jalannya!) sehingga untuk menuju ke Punthuk kalau membawa mobil/truk/bus harus memutar lewat pantok ke timur kemudian ke selatan.
Ketika sampai di tempat tersebut, ternyata sekarang kelihatan lebih rimbun, banyak pohon yang sudah besar tapi terkesan kotor. Kelihatan tidak ada perawatan secara intensif. Padahal tempat kebutuhan MCK sudah komplit dari tempat buang air (wc) sampai air kran bersih juga ada, kalau wc-nya penuh ya ke kali Bogowonto aja, kan dekat, aula juga tersedia. Pokoknya memenuhi syarat untuk camping. Dulu kira-kira tahun 1997, Punthuk pernah dijadikan acara Perkemahan Nasional.
Jadi menurut penulis Punthuk sebenarnya memenuhi syarat standar nasional sebagai bumi perkemahan dan akses menuju ke sana pun sudah di aspal. Namun sayang tempat tersebut terkesan tak terurus, buktinya penulis lihat aula yang sangat kotor dengan atap yang rusak, dengan rumput liar yang tumbuh di sana-sini, bahkan lapangan banyak ditumbuhi alang-alang. Tak jarang tempat tersebut kalau di hari libur(minggu) dijadikan tempat pacaran muda-mudi karena tidak adanya penjagaan dari yang berwenang sehingga siapapun dapat masuk ke area tersebut, tak terkecuali para pencari rumput dan para penggembala kambing.
Semestinya pihak yang berwenang (pemda) memperhatikan salah satu asset Purworejo ini, jika tempat ini bersih dan menarik pasti banyak yang berkunjung dan menggunakan untuk berbagai acara, ini kan peluang untuk menghasilkan rejeki.
Oh ya, mohon maaf saat penulis ke Punthuk tak membawa kamera jadi gambarnya belum ada nih, kapan-kapan kita ke sana lagi untuk foto-fotoan, siapa tahu ada penampakan...hi....
10 Juni 2009
Posted by Unknown
Tag : ,

Memanfaatkan Ikon Purworejo: DURIAN

Ketika saya mengunjungi teman dan saudara di luar daerah, seringkali mereka menanyakan tentang durian, baik tentang musimnya kapan, berapa harganya, belinya dimana, dst. Pada intinya yang terdapat di benak mereka adalah bahwa Purworejo pasti menghasilkan durian.
Ketika musim durian tiba, banyak berjajar pedagang musiman buah durian sepanjang jalan protokol dan daerah strategis di Purworejo, misalnya di Batoh, Krendetan dan Pantok. Pedagang di Batoh mengambil durian dari daerah Kemiri dan Grabag, pedagang di pantok mengambil durian dari kebun di Kaligesing dan yang di Krendetan mengambilnya dari Bagelen.
Pada kenyataanya durian tersebut belum tentu dipetik dari daerah penghasil di atas(Grabag, Kemiri, Kaligesing, Bagelen), tetapi bisa diambil dari daerah tetangga sebelah (Wonosobo, Magelang, Wates). Suplier dari daerah ini(luar Purworejo) memilih menjual duriannya ke Purworejo, kenapa demikian? ya itu tadi, sudah melekat di benak umum bahwa di Purworejo pasti ada durian. Bahkan beberapa prasasti durian (patung) sudah didirikan di Purworejo yaitu di pertigaan Bagelen dan prapatan Demangan Banyuurip. Ketika saya bekunjung ke teman saya di Kemanukan Kaligesing, iseng-iseng saya menanyakan keberadaan durian di sana, jawaban yang saya peroleh sungguh mencengangkan, pohon durian di sana sudah mulai punah karena tua dan tak ada peremajaan lagi bahkan orang sana (kaligesing) harus membeli durian dari luar kemudian dijual di sana, agar pembeli yang menuju ke Keligesing tak kecewa.
Pihak yang bewenang (dinas) sepertinya tak melakukan langkah-langkah strategis dan serius untuk mempertahankan keberadaan pohon durian di tempat asalnya, misalnya dengan program penanaman masal, pembagian bibit durian, dsb. Padahal hal ini merupakan aset daerah, coba kalau durian benar-benar melimpah dari Purworejo, secara otomatis akan meningkatkan pendapatan daerah, padahal pohon durian sangat cocok di tanam di daerah Purworejo. Buktinya sewaktu saya kecil menanam durian dari biji habis membeli durian (di daerah Bulus tempat simbah saya), saat ini pohonnya sudah berbuah dua kali, yang pertama dua belas biji, kemudian pada musim tahun kemarin, berbuah dua puluh biji. Nah ini dia buktinya bahwa tanah Purworejo dapat menumbuhkan pohon durian dengan baik, padahal tanpa dirawat dan dipupuk, nyatanya bisa berbuah, apalagi kalau perawatannya secara intensif, pasti hasilnya lebih memuaskan.
Kenyataanya banyak lahan kosong dan tak dimanfaatkan sama sekali, coba kalau ditanam durian, pasti anak cucu kita akan menikmati hasilnya dengan senang dan bangga. Karena itu kita sebagai blogger dari Purworejo, marilah kita kibarkan ikon durian agar tetap berkibar di tanah Purworejo, dengan ikon yang sudah dimiliki, bukankah hal ini adalah modal awal dan peluang bisnis yang sangat bagus?, jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena durian sulit ditemui di Purworejo.
26 Mei 2009
Posted by Unknown
Tag : ,

Menengok Ke Desa Bulus

Sebenarnya tulisan tentang bulus sudah pernah saya posting di bloggerpurworejo dan saya ingin posting kembali di blog ini karena blog ini juga bertema Purworejo, langsung copas aja yah:
Pernahkah sobat blogger sekalian mendengar nama sebuah desa yaitu Bulus ? Desa ini adalah adalah tempat kelahiran nenek moyang saya (bukan bermaksud promosi)yaitu terletak di Kecamatan Gebang, tepatnya di sebelah utara kota Purworejo lebih kurang 3 km dari arah kota Purworejo. Desa ini berada di pojok timur dan selatan Kecamatan Gebang karena sebelah timur desa ini adalah Desa Kalinongko yang menjadi bagian dari Kecamatan Loano sedangkan sebelah selatan Desa Bulus adalah Kelurahan Mranti yang menjadi bagian dari Kecamatan Purworejo.(lihat:http://id.wikipedia.org/wiki/Bulus,_Gebang,_Purworejo) Keadaan alam di desa ini berhawa sejuk karena daerahnya yang masih berbukit-bukit dengan pepohonan yang masih rindang, ketika anda mulai memasuki desa ini akan terkesan seperti desa terpencil, karena jalurnya yang sepi walaupun jalannya sudah Hotmix .

Namun akan lain kalau anda sudah berada di dalamnya, desa ini terkesan istimewa, misalnya terdapatnya makam Bupati I Purworejo yaitu Cokronegoro 1, makam tersebut adalah makam para pejabat kabupaten (ningrat) jaman dahulu. Makam tersebut sama sekali jauh dari kesan angker karena sering kedatangan para peziarah baik dari keluarga kraton atau dari masyarakat biasa karena makam tersebut sampai sekarang masih digunakan untuk penguburan baik untuk masyarakat Bulus sendiri juga untuk keluarga dari para kyai pondok pesantren Berjan.

Makam tersebut pernah dijadikan acara reality show dari sebuah stasiun televisi yaitu untuk acara uji nyali. Di makam ini ada fasilitas kamar mandi dan mushola beserta perlengkapannya sehingga akan nyaman jika anda ingin berziarah ke makam ini. Saya sering berkunjung ke makam ini karena simbah saya memang dimakamkan di sini. Di makam ini juga terdapat ruang untuk parkir mobil atau tempat untuk sekedar duduk-duduk saja menikmati pemandangan dan hawa pegunungan yang sejuk. Dan yang terpenting kunjungan ke makam ini tanpa dikenai biaya sedikitpun, apalagi kalau mengajak saya pasti dijamin gratis dan mendapat suguhan wedang macit ala kadarnya jika mampir ke gubug peninggalan simbah saya. Tapi mohon maaf untuk postingan ini tanpa persiapan foto(menyusul).

Hal istimewa lagi yang ada di desa Bulus adalah adanya danau kecil sebesar kolam renang arta tirta, masyarakat setempat menyebutnya ‘Beji’. Sampai saat ini debit airnya tak berkurang. Pada waktu saya kecil, beji sebagai tempat bermain langen (renang) karena memang airnya yang segar dan jernih. Jadi secara otomatis anak-anak di Desa Bulus pasti mahir berenang karena mempunyai kolam renang alamiah. Namun untuk saat ini beji sudah tidak sebgai tempat berenang karena airnya semakin banyak yang mengkonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, hal ini bisa dilihat dari banyaknya mesin pompa listrik yang mengambil air dari beji. (mohon maaf foto ‘beji’ menyusul)
11 Mei 2009
Posted by Anonim

Sejarah Kambing Ettawa Masuk Purworejo

Kambing Peranakan Ettawa (PE) ras Kaligesing merupakan trade mark Kabupaten Purworejo yang cukup dikenal. Berbagai sumber menyebutkan bahwa ettawa berasal dari India yang didatangkan pada jaman kolonial belanda. Namun siapa yang membawa kambing besar itu sampai ke Purworejo? Salah satu sumber terpercaya yaitu Ny Hadi Sukarman (67) menyebutkan bahwa keberadaan kambing Ettawa Kaligesing tak lepas dari bagian kehidupan Mangharam Teloomal, seorang bangsawan India. Saat itu terjadi pergolakan melawan penjajahan Inggris yang dipimpin Mahatma Gandhi, ia pun terlibat di dalamnya. Akhirnya ia tertangkap dan dibuang ke Sawah Lunto, Sumatera Utara untuk dipekerjakan di sebuah tambang batubara. Menjelang habis masa tahanan ia mendengar kabar bahwa Purworejo direncanakan akan dijadikan kota asisten residen. Setelah habis masa tahanannya ia pun segera menuju ke Purworejo. Tiba di Purworejo Mangharam tak diijinkan untuk bertempat tinggal berbaur dengan penduduk pribumi, tetapi harus menetap di Pendopo Kabupaten Purworejo. Hal tersebut memang kebijakan pemerintah saat itu yang dipimpin oleh Bupati Cokronegoro bahwa orang asing tak diijinkan bertempat tinggal di kampung. Selama tinggal di pendopo ia sangat akrab dengan Ucik Sukati (istri selir bupati), Ucik Sukati mempunyai keponakan yang cantik bernama Saminten dari Kaligesing, akhirnya Mangharam kenal dengan Saminten dan menikahinya. Dari perkawinan Mangharam-Saminten dikaruniai 3 orang anak yaitu: Maria Aloysia Sarsuti (Ny Hadi Sukarman), Moch Laal, Katerina Valentin.
Karena jiwa wiraswastanya yang besar, pada tahun 1943 Mangharam pun mendatangkan kambing benggala sebanyak 200 ekor dari India untuk dipelihara dan dikembangbiakkan di Kaligesing.
Akhirnya kambing ettawa yang sekarang lebih dikenal dengan Peranakan Ettawa (PE) berkembang biak di Purworejo dengan sentra di Kaligesing, dengan berbagai usaha penelitian dan persilangan yang ditangani oleh Pemerintah Purworejo akhirnya pada tahun 1958 hasil silangan kambing lokal dan kambing India setelah keturunan ke 5 menunjukkan kemurnian sifatnya. Maka pada tahun tersebut disepakati untuk pembersihan kambing jantan yang kualitasnya kurang baik yaitu dengan penjualan ke luar daerah, pemotongan dan kastrasi. Selanjutnya pejantan keturunan ke 5 yang terpilih sebagai pemacek (pengawin) dikembangbiakkan dan keturunannya sekarang dikenal dengan nama Kambing Ettawa Ras Kaligesing. (sumber: kiprah)
19 Maret 2009
Posted by Unknown

Copyright © 2013 Purworejo | Designed by Johanes Djogan | Support by Yoyok Rohani