Custom Search

Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Menguak Sejarah Cokronegoro Sebagai Bupati Purworejo

Ketika anda berada di Desa Bulus Kecamatan Gebang, anda akan menemui sebuah makam bersejarah yaitu makam Cokronegoro I yang diakui sebagai Bupati Purworejo yang pertama. Bagaimana perjalanan hidupnya hingga beliau dianggap sebagai pioneer di Kabupaten Purworejo?
Setelah baca sana sini dari berbagai sumber akhirnya saya mencoba menuliskan di sini sebagai arsip pribadi siapa tahu bisa sebagai bahan lamunan...eh renungan maksudnya.

Adalah seorang pemuda yang bernama Reso Diwiryo yang dilahirkan di Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi pada hari Rabu Pahing, 17 Mei 1779. Ketika remaja, Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta dengan tugas mengawasi irigasi di Ampel Boyolali, setelah beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi abdi dalem Kraton Surakarta dengan pangkat Mantri Gladhak yaitu pimpinan kantor pengurus pajak kraton. Reso Diwiryo dikenal sebagai abdi yang tekun dan cerdas, terbukti Reso Diwiryo dapat melakukan pengukuran dan pembagian Siti Lenggah (jawa: tanah bengkok) kepada para pembesar dan pangeran secara adil dan merata.
Makam Cokronegoro I
Reso Diwiryo akhirnya diangkat menjadi Penewu Gladhak dan bergelar Raden Ngabehi Reso Diwiryo. Karena ada sesuatu hal, Reso Diwiryo kemudian megundurkan diri dari pegawai kraton kemudian pulang ke Bragolan untuk melakukan Tirakat Ngluwat yaitu mengubur diri selama 40 hari.
Bertepatan dengan itu pada hari Kamis Kliwon, 7 Januari 1823 Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di Brengkelan, kemudian Diponegoro mendirikan pemerintahan di Brengkelan dan mengangkat Bupati Madyokusumo.
Belanda kewalahan menghadapi perlawanan Diponegoro sehingga menyeret Kasunanan Surakarta untuk terlibat dalam peperangan dengan alasan bahwa wilayah Bagelen adalah bagian dari Kasunanan Surakarta sehingga tidak selayaknya dikuasai oleh Diponegoro. Hasutan tersebut membuat Paku Buwono VI sebagai pemimpin Kraton untuk mengambil tindakan dengan memberangkatkan pasukan dengan yang dipimpin Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke tanah Bagelen, Kusumoyudo memohon kepada Paku Buwono VI agar sahabatnya Reso Diwiryo untuk mendampingi dirinya sebagai penunjuk jalan karena Reso Diwiryo dilahirkan di tanah Bagelen sehingga dianggap menguasai medan, kemudian Reso Diwiryo diangkat menjadi Senopati Pengamping. Akhirnya belanda dapat mendesak mundur pasukan Diponegoro karena ada bala bantuan dari pasukan Kraton Surakarta.
Atas jasanya tersebut pada tahun 1828 Reso Diwiryo diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan pada oleh Paku Buwono VI dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo dan mendapat Siti Lenggah sebesar 500 Bau (350 hektare).
Pada tahun 1830 belanda berhasil menangkap Diponegoro di Magelang dengan cara menipu yaitu mengajak berunding untuk perdamaian namun Diponegoro malah ditangkap dan diasingkan ke Makasar.
Paska tertangkapnya Diponegoro segera dilakukan pembenahan antara pemerintahan Belanda, Yogyakarta dan Surakarta. Reso Diwiryo kemudian diangkat menjadi Bupati Brengkelan. Reso Diwiryo kemudian bergelar Raden Adipati Aryo Cokronegoro. Pada tanggal 18 Desember 1830 atas usulan Reso Diwiryo maka Brengkelan diganti menjadi Purworejo yang berarti awal kemakmuran dan kemudian pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasar Surat Keputusan dari Gubernur Hindia Belanda dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah Bupati Purworejo oleh KH Baharudin.
25 Juni 2013
Posted by Anonim

Ternyata Beberapa Dalang Terkenal Berasal Dari Purworejo

Bicara dalang wayang kulit saat ini umumnya kita merujuk kepada dalang-dalang kondang seperti Ki Timbul Hadiprayitno dan Ki Hadi Sugito (alm)sebagai tokoh yang mewakili gaya Mataram sedangkan Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono mewakili Gagrak Surakarta, sedangkan Ki Narto Sabdo (alm) cenderung kepada gaya Surakarta karena memang aslinya dari Klaten. Untuk Gagrak Banyumas kita kenal Ki Sugino Siswocarito. Bahkan pada tahun 50-an ada dalang Banyumas yang sangat populer yaitu Ki Soerono.

Masing-masing Gagrak mempunyai penggemar (fans) sendiri-sendiri namun untuk daerah Bagelen umumnya cenderung menggemari gaya Mataram, karena gaya Mataram lebih dekat dengan sifat orang Bagelen yang suka “lugas” dan nampaknya Ki Timbul dan Ki Hadi Sugito lebih mampu mempresentasikan sifat khas orang Bagelen tersebut.

Barangkali kita belum tahu bahwa Ki Timbul itu orang Bagelen tepatnya dari Jenar (Plandi)yang masih termasuk kecamatan Purwodadi dan pernah mengaku bahwa masa kecilnya dia penggembala kambing di desa tersebut. Ini dia katakan sendiri waktu ndalang di Desa Klandaran Kec.Ngombol dimana penulis menyaksikan. Menurut apa yang saya dengar, mbakyunya ki Timbul menikah dengan dalang asal Wates, Wiji Prayitno, yang tidak lain adalah ayah ki Hadi Sugito, dengan demikian Ki Hadi Sugito itu adalah keponakan Ki Timbul. Pendidikan dalang Timbul diperoleh terutama sewaktu ikut/nyantrik kakak iparnya namun jiwanya tetap asli orang Bagelen, sedang Ki Hadi Sugito, ibunya adalah orang Jenar yang berarti berdarah Bagelen juga. Itulah mengapa terdapat hubungan batin timbal-balik antara kedua dalang tersebut dengan masyarakat Bagelen Purworejo pada umumnya. Jadi walaupun resminya mereka dalang dari Bantul dan Wates, masyarakat sekitar Desa Jenar menganggap keduanya adalah “orang” Jenar. Hal ini diceritakan oleh seorang teman Ki Timbul waktu kecil yang kebetulan teman penulis.
Pada waktu jaman penjajahan Belanda dalang yang paling terkenal di Purworejo adalah dalang dari Pacor Kec. Kutoarjo. Namanya dalang Gethuk dan pernah ditanggap di rumah kami waktu kakak kami sunatan tahun 1939. Penontonnya mbludak apalagi waktu itu permainan judi kodok ulo, dadu, kripyik secara tidak langsung masih “diijinkan” jadinya pasar di sebelah rumah seakan jadi “pasar malam judi”. Siang hari yang ndalang putranya, dalang muda Darto, orangnya cakep, banyak ibu-ibu muda yang kepincut. Dikemudian hari dalang ini sempat jadi dalang top untuk daerah Purworejo.

Kemudian ada dalang Popongan yang juga terkenal dan dianggap dalang “Kasepuhan” artinya ndalangnya alus, kurang greget, banyolannya lugu dan kurang berani nyerempet karenanya penggemarnya adalah para “pinisepuh” yang ingin “ngangsu kawruh kebatinan”.

Masih ada lagi dalang Sukrowo, namun saya kurang jelas dari mana asalnya, mungkin dari Wingko, demikian juga dalang “Suwing”, ini karena bibirnya (maaf) sumbing, ndalangnya cukup bagus dan sempat populer, anta-wecono-nya “agak bindeng” namun masyarakat tidak mempersoalkan. Dalang yang saya kenal namun berasal dari luar Purworejo adalah dalang Kotesan-Girigondo-Wates, agak populer waktu itu karena bersedia melakonkan Baratayudha yang di anggap sakral. Saya nonton waktu itu di Ngringgit tahun 30-an. Yang saya ingat adalah episode gugurnya Gathutkoco, kesan saya penampilannya sangat memukau.

Disamping dalang wayang kulit dari Purworejo juga memiliki dalang wayang golek (menak/klithik) yang pada waktu itu cukup bersaing dengan wayang kulit khususnya di daerah Purworejo selatan. Lakon-lakon wayang golek umumnya berkaitan dengan penyebaran agama Islam, tokoh utamanya adalah Wong Agung Menak Jayengrono dengan panglimanya Umarmoyo. Ada tiga dalang yaitu dari Kaibon, Paitan dan Benco Rowodadi. Yang paling populer adalah dalang Guno dari Benco, kalau sudah memainkan Umarmoyo yang gagah, perang silat dengan pedangnya, penonton tepuk tangan riuh rendah seperti ke stroom. Tokoh dagelannnya adalah Jiweng dan Thoples, ditangan dalang Guno kedua tokoh ini sangat menghibur penonton. Lakon yang sangat dihindari adalah “Umarmoyo Kelangan Kasange/Ngemis”, karena penanggapnya bisa jatuh miskin jadi pengemis. Tokoh yang paling dibenci adalah Patih Bestak dari Medayin sebanding dengan Sengkuni/Durno pada wayang kulit. Sayang kesenian wayang golek itu sekarang sudah hampir punah, dalangnya juga sudah tidak ada lagi, setidaknya untuk daerah Purworejo.

Di Mendiro Kecamatan Ngombol dulu ada dalang wayang kulit dengan spesialisasi untuk acara bersih desa. Menurut kepercayaan ada beberapa desa yang leluhurnya harus di tanggapkan wayang setiap datang saat bersih desa. Jika bulan Rojab datang yaitu saatnya bersih desa, Pak Dalang panen tanggapan. Saya tidak tahu dari mana Pak dalang ini belajar ndalang, sebab diantara keluarganya tidak ada darah dalang, wayang juga tidak punya, biasanya menyewa dari Wingko termasuk gamelannya. Setelah meninggal pun tidak ada yang meneruskan bakatnya, putranya bahkan tak menjadi dalang tetapi menjadi kepala desa.

Itulah sekedar catatan kenangan yang saya ketahui tentang dalang wayang di Purworejo tempo dulu bahkan mungkin dikenang sampai kini. Saat ini nampaknya belum ada dalang yang cukup terkenal dari daerah ini, kalaupun ada tingkatannya masih lokal. Semoga bakat-bakat pedalangan yang masih terpendam seperti yang telah dibuktikan oleh dalang Pacor, Ki Timbul dan Ki Hadi Sugito akan muncul kembali dari daerah ini, yang akan mewakili ciri khas masyarakat Bagelen seperti halnya dalang Banyumas yang telah mencerminkan “kepribadian” orang daerah itu. Kalau Jenar dan Pacor telah melahirkan dalang kondang semoga suatu saat akan lahir lagi dalang kondang dari daerah ini.(Slamet Wijadi)

Sumber Artikel : http://mig33-purworejo.co.cc/forum-mig33/index.php/topic,61.0/wap2.html

Technorati code claim: 5CTGEMWXMBWN
25 Februari 2010
Posted by Unknown
Tag :

Tempat Kelahiran WR Supratman

Di mana sebenarnya tempat kelahiran sang pencipta lagu "Indonesia Raya" yaitu WR Supratman ? terdapat 2 versi tempat kelahirannya. Yang pertama di MR Cornelis (Jatinegara) Jakarta dan yang kedua adalah di Dukuh Trembelang Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Versi pertama dikutip dari penulis Matu Mona dan penulis Abdullah Puar. Versi ini bersumber dari surat jawaban yang diterima Matu Mona dari Ny. Rukiyem Supratiyah (kakak WR Supratman) yang ditulis oleh Urip Supardjo (adik WR Supratman).
Dalam wawancara yang dilakukan oleh "Sekretaris Tim Peneliti dan Penetapan Tempat Kelahiran WR Supratman" dalam rangka penulisan buku "Komponis dan Jurnalis Nasionalis WR Supratman, Maha Putera Tanah Bagelen" terhadap Urip Supardjo di kediamannya Jl. Veteran Jakarta, Urip Supardjo menyatakan bahwa surat jawaban untuk Matu Mona yang ditulisnya dengan tempat kelahiran WR Supratman di MR Cornelis (Jatinegara) hanyalah pertimbangan praktis dan gengsi saja, namun sesungguhnya WR Supratman dilahirkan di Dukuh Trembelang Desa Somongari Kabupaten Purworejo. Hal ini juga dikuatkan oleh keterangan Ny. Rukiyem Supratiyah yang direkam dalam video yang sekarang disimpan oleh Kak Har (Dwi Rahardjo), seorang pandu wreda yang tinggal di Tangerang. Keterangan yang menguatkan lainnya berasal dari Ny. Siti Fatimah Kasan Sangari (sepupu WR Supratman) dan Ny. Salamah (janda WR Supratman).
WR adalah kependekan dari Wage Rudolf. Wage adalah hari kelahirannya yaitu pada hari Wage pada tahun 1903 sedangkan Rudolf adalah nama panggilannya karena saat itu WR Supratman dapat memerankan tokoh Rudolf dengan baik dalam sebuah drama di kota Makassar karena ikut kakak iparnya Van Eldik, seorang Indo kelahiran Jawa Timur.
Mengenai tanggal kelahirannya juga ada 2 versi yang kuat, yang pertama tanggal Senin Wage 9 Maret 1903 dan yang kedua Kamis Wage 19 Maret 1903. Versi yang pertama berdasarkan atas tercantumnya tanggal kelahiran WR Supratman pada senin Wage 9 Maret 1903 dalam amar putusan Pengadilan Negeri Surabaya ketika kakak-kakaknya mengajukan penetapan "Ahli Waris" karena ada seorang wanita dari Rembang yang mengaku sebagai istri WR Supratman. Akhirnya tanggal 9 Maret oleh pemerintah dijadikan hari musik Nasional.
Sedangkan versi kelahiran yang kedua yaitu pada Kamis Wage tanggal 19 Maret 1903, versi ini muncul dari sejumlah saksi ketika diperiksa dalam Pengadilan Negeri Purworejo, diungkapkan bahwa Ibu Siti Senen, ibu kandung WR Supratman dalam keadaan mengandung tua telah pulang ke desa asalnya yaitu Somongari pada hari Kamis Wage kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki.
Pada tahun 1978, pada masa Bupati Purworejo Supanto, telah membentuk tim yang dikirim ke Jakarta untuk mendiskusikan tentang kelahiran WR Supratman dengan Yayasan Idayu, kemudian mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Purworejo untuk penetapan tempat kelahiran WR Supratman, langkah tersebut dibarengi dengan pembuatan patung WR Supratman di prapatan Pantok Purworejo dan pemasangan prasasti di Desa Somongari. Namun sampai habisnya jabatan Bupati Supanto sidang perdata di Pengadilan Negeri Purworejo belum membuahkan hasil dan ditunda tanpa putusan.
Persoalan tempat tanggal lahir WR Supratman muncul kembali setelah Dwi Rahardjo membuat surat kepada Presiden RI 7 Februari 2005 yang isinya mempersoalkan tanggal kelahiran WR Supratman, kemudian Bupati Purworejo membentuk tim peneliti untuk mengumpulkan, menelusuri dan menganalisa tentang WR Supratman. Kemudian Tim merencanakan sejumlah kegiatan dan membuka kembali perkara perdata tentang tempat lahir WR Supratman yang tertunda. Namun dalam perkembangannya proposal yang diajukan ternyata tak mendapat respon bahkan diketahui rencana anggaran yang dibebankan kepada APBD untuk rencana pembangunan jangka menengah Desa Somongari telah dicoret.
Bagaimanapun penelusuran tempat tanggal lahir WR Supratman memang perlu diperjuangkan dan perlu dukungan segenap elemen bangsa khususnya masyarakat Purworejo, karena sepatutnya dan terbukti bahwa WR Supratman adalah komponis yang terlahir dari Kota BERIRAMA.
20 Maret 2009
Posted by Unknown

Copyright © 2013 Purworejo | Designed by Johanes Djogan | Support by Yoyok Rohani