Custom Search
Purworejo Menjadi Bagian Daerah Istimewa Yogyakarta, Mungkinkah?
Wacana Kabupaten Purworejo ingin menjadi bagian dari Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta muncul kali pertama pada saat dialog terbuka pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Purworejo 2015 yang digelar oleh Forum Komunikasi Lintas Antar Partai Politik (FORLAP) di gedung wanita pada Bulan November 2015 yang dilontarkan oleh seorang pemuda: Suluh Allan Fatchan Gani Wardana dari Presidium ORMAS, yang akhirnya berita tersebut menyebar ke masyarakat sehingga berkembang menjadi wacana yang menarik perhatian sekaligus trending topic di jejaring sosial.
Menurut pendapat penulis yang notabene mencari nafkah di Yogyakarta sehingga wira-wiri Yogya-Purworejo (lajoners), penulis dapat mengetahui kesenjangan antara DIY-Jateng via Purworejo terutama dari segi jalan (sebelum tahun 2013). Ketika berangkat dari Yogya naik bus kemudian tertidur maka otomatis nanti kalau terbangun karena jalan berlubang-lubang maka itu sebagai tanda sudah masuk ke daerah Purworejo, tentu kelakar ini ada benarnya karena faktanya jalan Yogya mulus sementara jalan Purworejo rusak tak terawat walaupun sama-sama merupakan jalan arteri (utama).
Yang pasti, wacana yang masih sebatas kelakar ini dapat diapresiasi oleh masyarakat Purworejo secara cepat karena masyarakat merasa pembangunan di Purworejo berjalan stagnan, perubahan-perubahan yang membuat greget ekonomi tak terlihat secara nyata dan tak berarti sehingga penulis yakin sebagian besar masyarakat Purworejo merasa jika ikut DIY akan lebih baik, jika kemudian diadakan survey kemungkinan besar dimenangkan bergabung ke Yogyakarta. Namun apakah birokrasi akan semudah itu? penulis rasa jelas tidak!.Penggabungan daerah melibatkan banyak pihak baik institusi, hukum, sejarah, fakta dan sebagainya. Tapi akhirnya semuanya hanya tunggu waktu...
Menurut penulis, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah seharusnya lebih perhatian terhadap daerah-daerah sensitif semisal Purworejo yang merupakan batas propinsi, karena sudah diketahui oleh umum bahwa DIY menjadi ikon pariwisata negara setelah Bali sementara Purworejo menempel di Propinsi Yogya sehingga peluang untuk mendapatkan wisatawan lebih besar dibandingkan daerah lain yang jauh dari pusat pariwisata. Momen ini tak dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah, terbukti banyak tempat wisata seperti Gua Seplawan, Curug Muncar, Pantai Jatimalang, Hutan Wisata Bener dan masih banyak lagi yang tidak terawat apalagi dipromosikan sehingga Purworejo tak mendapatkan penghasilan yang signifikan dari sektor wisata ini.
Terlepas dari wacana bahwa Purworejo akan menjadi bagian DIY tersebut benar-benar akan terealisasi atau tidak tetapi gagasan yang berani ini tercetus karena masyarakat Purworejo merasa bahwa pemerintah di atasnya yaitu propinsi Jawa Tengah tidak perhatian. Buktinya pasar Baledono yang rusak akibat terbakar beberapa tahun yang lalu, dibiarkan tanpa ada penyelesaian mau diapakan, padahal pasar Baledono adalah pusat perekonomian di Kab Purworejo. Orang Purworejo menurut penulis tentu lebih senang jika menjadi bagian dari Yogyakarta karena mau ke pusat propinsi menjadi dekat,sementara ke Semarang jauhnya tiga kali lipat. Saat ini banyak masyarakat Purworejo yang mencari nafkah ke Yogyakarta, baik menjadi Pedagang, Guru, TNI, Polri, BUMN, Dosen, Karyawan dan sebagainya, ini sudah dibuktikan oleh penulis sendiri karena notabene penulis adalah lajon naik bus dan mereka adalah teman-teman penulis yang naik bus bersamaan dari Bosko Borokulon menuju Yogyakarta.
Di masyarakat Purworejo sendiri adalah menjadi kebanggaan tersendiri jika dianggap sebagai "Wong Jogja" sehingga jika survei dilakukan kepada masyarakat Purworejo mengenai gabung DIY atau tetap di Jateng, maka penulis yakin masyarakat Purworejo mayoritas memilih ikut gabung DIY.
Menurut pendapat penulis yang notabene mencari nafkah di Yogyakarta sehingga wira-wiri Yogya-Purworejo (lajoners), penulis dapat mengetahui kesenjangan antara DIY-Jateng via Purworejo terutama dari segi jalan (sebelum tahun 2013). Ketika berangkat dari Yogya naik bus kemudian tertidur maka otomatis nanti kalau terbangun karena jalan berlubang-lubang maka itu sebagai tanda sudah masuk ke daerah Purworejo, tentu kelakar ini ada benarnya karena faktanya jalan Yogya mulus sementara jalan Purworejo rusak tak terawat walaupun sama-sama merupakan jalan arteri (utama).
Yang pasti, wacana yang masih sebatas kelakar ini dapat diapresiasi oleh masyarakat Purworejo secara cepat karena masyarakat merasa pembangunan di Purworejo berjalan stagnan, perubahan-perubahan yang membuat greget ekonomi tak terlihat secara nyata dan tak berarti sehingga penulis yakin sebagian besar masyarakat Purworejo merasa jika ikut DIY akan lebih baik, jika kemudian diadakan survey kemungkinan besar dimenangkan bergabung ke Yogyakarta. Namun apakah birokrasi akan semudah itu? penulis rasa jelas tidak!.Penggabungan daerah melibatkan banyak pihak baik institusi, hukum, sejarah, fakta dan sebagainya. Tapi akhirnya semuanya hanya tunggu waktu...
Menurut penulis, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah seharusnya lebih perhatian terhadap daerah-daerah sensitif semisal Purworejo yang merupakan batas propinsi, karena sudah diketahui oleh umum bahwa DIY menjadi ikon pariwisata negara setelah Bali sementara Purworejo menempel di Propinsi Yogya sehingga peluang untuk mendapatkan wisatawan lebih besar dibandingkan daerah lain yang jauh dari pusat pariwisata. Momen ini tak dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah, terbukti banyak tempat wisata seperti Gua Seplawan, Curug Muncar, Pantai Jatimalang, Hutan Wisata Bener dan masih banyak lagi yang tidak terawat apalagi dipromosikan sehingga Purworejo tak mendapatkan penghasilan yang signifikan dari sektor wisata ini.
Terlepas dari wacana bahwa Purworejo akan menjadi bagian DIY tersebut benar-benar akan terealisasi atau tidak tetapi gagasan yang berani ini tercetus karena masyarakat Purworejo merasa bahwa pemerintah di atasnya yaitu propinsi Jawa Tengah tidak perhatian. Buktinya pasar Baledono yang rusak akibat terbakar beberapa tahun yang lalu, dibiarkan tanpa ada penyelesaian mau diapakan, padahal pasar Baledono adalah pusat perekonomian di Kab Purworejo. Orang Purworejo menurut penulis tentu lebih senang jika menjadi bagian dari Yogyakarta karena mau ke pusat propinsi menjadi dekat,sementara ke Semarang jauhnya tiga kali lipat. Saat ini banyak masyarakat Purworejo yang mencari nafkah ke Yogyakarta, baik menjadi Pedagang, Guru, TNI, Polri, BUMN, Dosen, Karyawan dan sebagainya, ini sudah dibuktikan oleh penulis sendiri karena notabene penulis adalah lajon naik bus dan mereka adalah teman-teman penulis yang naik bus bersamaan dari Bosko Borokulon menuju Yogyakarta.
Di masyarakat Purworejo sendiri adalah menjadi kebanggaan tersendiri jika dianggap sebagai "Wong Jogja" sehingga jika survei dilakukan kepada masyarakat Purworejo mengenai gabung DIY atau tetap di Jateng, maka penulis yakin masyarakat Purworejo mayoritas memilih ikut gabung DIY.
Rumah Idaman Investasi Masa Depan di Purworejo
Kalau anda ke Purworejo dari arah timur maka ketika akan masuk batas kota akan terlihat iklan yang berisi tentang ajakan kepada para investor untuk berinvestasi di Purworejo dengan birokrasi yang mudah. Memang, dari dahulu kala Purworejo tak tersentuh industri, beberapa perusahaan besar ingin membuat pabrik di Purworejo namun tak terealisasi karena rakyat tak menghendaki sawahnya untuk dibeli sehingga pabrik tak jadi berdiri. Namun demikian perusahaan rokok HM Sampoerna berhasil mendirikan pabrik di daerah yang tekenal dengan kota pensiunan ini.
Peluang usaha tetap ada di Purworejo, hal ini dimanfaatkan oleh para developer untuk membangun rumah-rumah cluster yang ramah lingkungan, gayung pun bersambut, rakyat setuju dengan proyek-proyek perumahan seperti ini, kenyataanya sawah dengan mudah dijual untuk sebuah perumahan, tak seperti ketika ditawar oleh perusahaan dengan alasan nanti banyak limbah industri. Akhirnya bermunculan perumahan sebagai rumah idaman investasi masa depan, baik di persawahan dan pegunungan. Rumah idaman investasi masa depan laris bak kacang goreng di daerah ini. Terbukti di beberapa desa pasti terdapat perumahan rumah idaman investasi masa depan yang baru.
Ironisnya rumah idaman investasi masa depan banyak dimiliki oleh orang luar sekitar Purworejo, misalnya dari Yogyakarta, Kulonprogo, Kebumen, Wonosobo dan Magelang. Namun mereka memiliki rumah hanya sebagai rumah idaman investasi masa depan sehingga dikontrakkan atau sebagai kos-kosan, dan ironisnya lagi para pengontrak adalah warga pribumi yang notabene nya dalah warga Purworejo.
Peluang usaha tetap ada di Purworejo, hal ini dimanfaatkan oleh para developer untuk membangun rumah-rumah cluster yang ramah lingkungan, gayung pun bersambut, rakyat setuju dengan proyek-proyek perumahan seperti ini, kenyataanya sawah dengan mudah dijual untuk sebuah perumahan, tak seperti ketika ditawar oleh perusahaan dengan alasan nanti banyak limbah industri. Akhirnya bermunculan perumahan sebagai rumah idaman investasi masa depan, baik di persawahan dan pegunungan. Rumah idaman investasi masa depan laris bak kacang goreng di daerah ini. Terbukti di beberapa desa pasti terdapat perumahan rumah idaman investasi masa depan yang baru.
Ironisnya rumah idaman investasi masa depan banyak dimiliki oleh orang luar sekitar Purworejo, misalnya dari Yogyakarta, Kulonprogo, Kebumen, Wonosobo dan Magelang. Namun mereka memiliki rumah hanya sebagai rumah idaman investasi masa depan sehingga dikontrakkan atau sebagai kos-kosan, dan ironisnya lagi para pengontrak adalah warga pribumi yang notabene nya dalah warga Purworejo.
Jadwal Imsakiyah 1434 H/2013 M Purworejo
Download Jadwal Imsakiyah
Sumber: Kementerian Agama Kabupaten Purworejo
Sumber: Kementerian Agama Kabupaten Purworejo
Menguak Sejarah Cokronegoro Sebagai Bupati Purworejo
Ketika anda berada di Desa Bulus Kecamatan Gebang, anda akan menemui sebuah makam bersejarah yaitu makam Cokronegoro I yang diakui sebagai Bupati Purworejo yang pertama.
Bagaimana perjalanan hidupnya hingga beliau dianggap sebagai pioneer di Kabupaten Purworejo?
Setelah baca sana sini dari berbagai sumber akhirnya saya mencoba menuliskan di sini sebagai arsip pribadi siapa tahu bisa sebagai bahan lamunan...eh renungan maksudnya.
Adalah seorang pemuda yang bernama Reso Diwiryo yang dilahirkan di Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi pada hari Rabu Pahing, 17 Mei 1779. Ketika remaja, Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta dengan tugas mengawasi irigasi di Ampel Boyolali, setelah beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi abdi dalem Kraton Surakarta dengan pangkat Mantri Gladhak yaitu pimpinan kantor pengurus pajak kraton. Reso Diwiryo dikenal sebagai abdi yang tekun dan cerdas, terbukti Reso Diwiryo dapat melakukan pengukuran dan pembagian Siti Lenggah (jawa: tanah bengkok) kepada para pembesar dan pangeran secara adil dan merata.
Reso Diwiryo akhirnya diangkat menjadi Penewu Gladhak dan bergelar Raden Ngabehi Reso Diwiryo.
Karena ada sesuatu hal, Reso Diwiryo kemudian megundurkan diri dari pegawai kraton kemudian pulang ke Bragolan untuk melakukan Tirakat Ngluwat yaitu mengubur diri selama 40 hari.
Bertepatan dengan itu pada hari Kamis Kliwon, 7 Januari 1823 Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di Brengkelan, kemudian Diponegoro mendirikan pemerintahan di Brengkelan dan mengangkat Bupati Madyokusumo.
Belanda kewalahan menghadapi perlawanan Diponegoro sehingga menyeret Kasunanan Surakarta untuk terlibat dalam peperangan dengan alasan bahwa wilayah Bagelen adalah bagian dari Kasunanan Surakarta sehingga tidak selayaknya dikuasai oleh Diponegoro. Hasutan tersebut membuat Paku Buwono VI sebagai pemimpin Kraton untuk mengambil tindakan dengan memberangkatkan pasukan dengan yang dipimpin Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke tanah Bagelen, Kusumoyudo memohon kepada Paku Buwono VI agar sahabatnya Reso Diwiryo untuk mendampingi dirinya sebagai penunjuk jalan karena Reso Diwiryo dilahirkan di tanah Bagelen sehingga dianggap menguasai medan, kemudian Reso Diwiryo diangkat menjadi Senopati Pengamping. Akhirnya belanda dapat mendesak mundur pasukan Diponegoro karena ada bala bantuan dari pasukan Kraton Surakarta.
Atas jasanya tersebut pada tahun 1828 Reso Diwiryo diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan pada oleh Paku Buwono VI dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo dan mendapat Siti Lenggah sebesar 500 Bau (350 hektare).
Pada tahun 1830 belanda berhasil menangkap Diponegoro di Magelang dengan cara menipu yaitu mengajak berunding untuk perdamaian namun Diponegoro malah ditangkap dan diasingkan ke Makasar.
Paska tertangkapnya Diponegoro segera dilakukan pembenahan antara pemerintahan Belanda, Yogyakarta dan Surakarta. Reso Diwiryo kemudian diangkat menjadi Bupati Brengkelan. Reso Diwiryo kemudian bergelar Raden Adipati Aryo Cokronegoro. Pada tanggal 18 Desember 1830 atas usulan Reso Diwiryo maka Brengkelan diganti menjadi Purworejo yang berarti awal kemakmuran dan kemudian pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasar Surat Keputusan dari Gubernur Hindia Belanda dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah Bupati Purworejo oleh KH Baharudin.
Setelah baca sana sini dari berbagai sumber akhirnya saya mencoba menuliskan di sini sebagai arsip pribadi siapa tahu bisa sebagai bahan lamunan...eh renungan maksudnya.
Adalah seorang pemuda yang bernama Reso Diwiryo yang dilahirkan di Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi pada hari Rabu Pahing, 17 Mei 1779. Ketika remaja, Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta dengan tugas mengawasi irigasi di Ampel Boyolali, setelah beberapa waktu beliau kemudian diangkat menjadi abdi dalem Kraton Surakarta dengan pangkat Mantri Gladhak yaitu pimpinan kantor pengurus pajak kraton. Reso Diwiryo dikenal sebagai abdi yang tekun dan cerdas, terbukti Reso Diwiryo dapat melakukan pengukuran dan pembagian Siti Lenggah (jawa: tanah bengkok) kepada para pembesar dan pangeran secara adil dan merata.
![]() |
| Makam Cokronegoro I |
Bertepatan dengan itu pada hari Kamis Kliwon, 7 Januari 1823 Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di Brengkelan, kemudian Diponegoro mendirikan pemerintahan di Brengkelan dan mengangkat Bupati Madyokusumo.
Belanda kewalahan menghadapi perlawanan Diponegoro sehingga menyeret Kasunanan Surakarta untuk terlibat dalam peperangan dengan alasan bahwa wilayah Bagelen adalah bagian dari Kasunanan Surakarta sehingga tidak selayaknya dikuasai oleh Diponegoro. Hasutan tersebut membuat Paku Buwono VI sebagai pemimpin Kraton untuk mengambil tindakan dengan memberangkatkan pasukan dengan yang dipimpin Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke tanah Bagelen, Kusumoyudo memohon kepada Paku Buwono VI agar sahabatnya Reso Diwiryo untuk mendampingi dirinya sebagai penunjuk jalan karena Reso Diwiryo dilahirkan di tanah Bagelen sehingga dianggap menguasai medan, kemudian Reso Diwiryo diangkat menjadi Senopati Pengamping. Akhirnya belanda dapat mendesak mundur pasukan Diponegoro karena ada bala bantuan dari pasukan Kraton Surakarta.
Atas jasanya tersebut pada tahun 1828 Reso Diwiryo diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan pada oleh Paku Buwono VI dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo dan mendapat Siti Lenggah sebesar 500 Bau (350 hektare).
Pada tahun 1830 belanda berhasil menangkap Diponegoro di Magelang dengan cara menipu yaitu mengajak berunding untuk perdamaian namun Diponegoro malah ditangkap dan diasingkan ke Makasar.
Paska tertangkapnya Diponegoro segera dilakukan pembenahan antara pemerintahan Belanda, Yogyakarta dan Surakarta. Reso Diwiryo kemudian diangkat menjadi Bupati Brengkelan. Reso Diwiryo kemudian bergelar Raden Adipati Aryo Cokronegoro. Pada tanggal 18 Desember 1830 atas usulan Reso Diwiryo maka Brengkelan diganti menjadi Purworejo yang berarti awal kemakmuran dan kemudian pada tanggal 22 Agustus 1831 berdasar Surat Keputusan dari Gubernur Hindia Belanda dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah Bupati Purworejo oleh KH Baharudin.
Tahukah Anda Jumlah Orang Purworejo di Facebook?
Temuan ini sebenarnya tak sengaja ketika saya coba-coba untuk merancang iklan di facebook kemudian di pengaturannya terdapat form untuk memasukkan jumlah target yang menjadi sasaran iklan, kemudian tentunya saya memilih Purworejo Jawa Tengah Indonesia dan akhirnya keluar seperti gambar di bawah ini:
Ternyata orang Purworejo yang menggunakan facebook berjumlah 92 ribu orang, jika menurut BPS Jateng jumlah penduduk Purworejo tahun 2011 berjumlah 700 ribuan, maka pengguna facebook adalah sebesar 13 persen...sungguh angka yang fantastis, ternyata orang purworejo yang sedikit melek IT cukup banyak...(kenyataan: bisa FBan tapi nggak tahu IT/internet ) Menurut saya jumlah pengguna tersebut belum tentu penduduk yang bermukim di Purworejo, kemungkinan penduduk luar kota yang pernah/asalnya dari Purworejo, yang jelas masih cinta dengan Purworejo.
Ternyata orang Purworejo yang menggunakan facebook berjumlah 92 ribu orang, jika menurut BPS Jateng jumlah penduduk Purworejo tahun 2011 berjumlah 700 ribuan, maka pengguna facebook adalah sebesar 13 persen...sungguh angka yang fantastis, ternyata orang purworejo yang sedikit melek IT cukup banyak...(kenyataan: bisa FBan tapi nggak tahu IT/internet ) Menurut saya jumlah pengguna tersebut belum tentu penduduk yang bermukim di Purworejo, kemungkinan penduduk luar kota yang pernah/asalnya dari Purworejo, yang jelas masih cinta dengan Purworejo.
Harapan Warga Purworejo Terhadap Cagub Ganjar
Pilgub yang dilaksanakan kemarin, 26 Mei 2013 telah menuai hasil, menurut perhitungan cepat LSI dimenangkan oleh pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko. Ganjar yang dilahirkan di Kec. Kutoarjo Kab. Purworejo jika akhirnya menjadi Gubernur Jawa Tengah tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Purworejo.
Dalam kampanyenya pasangan Ganjar-Heru menjanjikan adanya kartu petani dan kartu nelayan dengan harapan para petani dan nelayan mendapatkan subsidi.
Pasangan yang diusung oleh PDI Perjuangan tersebut diharapkan dapat mengikuti jejak Jokowi dengan semangat blusukannya, sehingga daerah-daerah yang jauh dari ibukota propinsi seperti Kab. Purworejo dapat perhatian.
Danang, Pengendang Cilik dari Popongan
Kelompok seni tradisi jaran kepang dari Desa Popongan Kecamatan Banyuurip Kab Purworejo yang bernama Turonggo Tresno Budoyo ternyata mempunyai pengendang cilik yang cukup mahir, terbukti dalam beberapa pementasan, Danang, nama dari pengendang cilik tersebut, dapat mengikuti pementasan sampai selesai.
Videonya dapat dilihat di sini
Jadwal Pentas Seni Tradisi di Gedung Kesenian Purworejo 2013
Pementasan seni tradisi Purworejo sebenarnya sudah dimulai sejak 20 April 2013, walaupun telat mudah-mudahan bermanfaat...
|
Hari
|
Tanggal
|
Waktu
|
Jenis
|
Asal
|
|
Rabu
|
8 Mei 2013
|
14.00
- 17.00
|
Kuda
Kepang Turonggo Mudo
|
Surorejo,
Banyuurip
|
|
Sabtu
|
11 Mei 2013
|
14.00
- 17.00
|
Dolalak
Jati
Kusumo
|
Katerban
Kutoarjo
|
|
Rabu
|
15 Mei 2013
|
14.00
- 17.00
|
Ande-ande
Lumut Cipto Budoyo
|
Kemanukan
Bagelen
|
|
Sabtu
|
18 Mei 2013
|
14.00
- 17.00
|
Kuda
Kepang Krido Laras
|
Karang
Gedang Bruno
|
|
Selasa
|
21 Mei 2013
|
14.00
- 17.00
|
Dolalak
Dwi Lestari
|
Plipir
Purworejo
|
|
Rabu
|
29 Mei 2013
|
14.00
- 17.00
|
Dolalak
Asri Budaya
|
Karang
Rejo Loano
|
|
Sabtu
|
1 Juni 2013
|
14.00
- 17.00
|
Kuda
Kepang Turonggo Piling
|
Sruwoh
Ngombol
|
|
Rabu
|
5 Juni 2013
|
14.00
- 17.00
|
Gojeg
Lesung BangBung
|
Bandungrejo
Bayan
|
|
Sabtu
|
8 juni 2013
|
14.00
- 17.00
|
Kuda
Kepang "Gemar Budaya"
|
Kedung
Pomahan Kulon Kemiri
|
|
Rabu
|
12 Juni 2013
|
14.00
- 17.00
|
Kuda
Kepang Sido Dadi
|
Binangun
Butuh
|
|
Rabu
|
19 Juni 2013
|
14.00
- 17.00
|
Dolalak
Laras Rinenggo
|
Dudu
Kulon Grabag
|
Gedung Kesenian Sarwo Edhi Wibowo Purworejo
![]() |
| Foto Gedung Kesenian Purworejo |
Jembatan Gantung Borowetan
Desa Borowetan adalah sebuah desa di ujung timur Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo yang sebagian desanya terbelah oleh sungai terbesar di Kabupaten Purworejo yaitu Kali Bogowonto dan di desa ini juga tempat ditemukannya Kayu Arahiwang yaitu sebuah prasasti yang menceritakan tentang awal mula berdirinya Kabupaten Purworejo.
Sebagian besar wilayah desa ini berada di timur sungai, namun pusat pemerintahan (Balai Desa) berada di barat sungai, sehingga untuk menuju balai desa warga harus memutar lewat jembatan di Baledono atau jembatan di Purwodadi yang jaraknya bisa 10 kali lipat.
Sebagian besar wilayah desa ini berada di timur sungai, namun pusat pemerintahan (Balai Desa) berada di barat sungai, sehingga untuk menuju balai desa warga harus memutar lewat jembatan di Baledono atau jembatan di Purwodadi yang jaraknya bisa 10 kali lipat.
Purworejo Go Agriculture Vision
Kebanggaan kita terhadap Purworejo sedikit bertambah, karena telah lahir branding Purworejo yang diharapkan dapat "menjual" Purworejo, yaitu bertajuk "Purworejo Go Agriculture Vision".
Branding tersebut berupa tulisan kata "Purworejo" dengan tagline "Go Agriculture Vision" dan termuat simbol bedug pendawa, tunas kelapa, serta siluet topi dolalak.
Menurut saya tagline akan lebih menggelitik menggunakan Bahasa Jawa Purworejo atau Bahasa Indonesia mengingat Kabupaten Purworejo masih dalam rangka Go Nasional belum Go International.
Andai Purworejo Berirama dan Bersuara
Belakangan ini kata 'Andai' sepertinya sedang digandrungi di tanah air, terbukti lagu andai aku jadi gayus, laris manis bak jagung godok di alun-alun Purworejo... dan memang dalam situasi negeri yang serba meresahkan dan menggelisahkan, rakyat jelata dan orang awam serta warga pinggiran bisanya hanya berdoa, berharap, memohon, berdoa dan dan berandai...
Tarian Ndolalak Purworejo
Bagi masyarakat yang berdomisili di Purworejo tarian ndolalak tentunya tak terlalu asing atau paling tidak pernah mendengar nama sebuah tarian asli khas Purworejo ini. Nama Ndolala konon berasal dari nada do la la yang pada saat itu dimainkan oleh Belanda. Hal ini tak dipungkiri bahwa Ndolala memang terinspirasi dari tarian Belanda karena dilihat dari pakaiannya seperti pakaian serdadu belanda pada jaman itu (pra kemerdekaan). Orang Purworejo ada juga yang menyebut tarian ini dengan nama 'Angguk' atau 'Jidor', mungkin karena gerakannya yang mengangguk-anggukan kepala dan musiknya menggunakan bedug kecil atau jidor.
Pada mulanya tarian ndolalak adalah tarian yang dilakukan oleh para pria dengan berkostum layaknya pakaian serdadu belanda yaitu pakaian lengan panjang hitam dengan pangkat di pundak, topi pet, dan berkacamata hitam dengan gerakan seperti layaknya gerakan dansa. Dengan iringan musik yang romantis menggunakan kendang, rebana dan jidor yang disertai dengan lagu-lagu berisi syair nasihat dengan Bahasa Jawa dicampur melayu. Jumlah penarinya antara 10-14 orang dengan pengiring musiknya 10 orang. Waktu pementasan pada saat itu bisa semalam suntuk.
Seiring perkembangan jaman, iringan musik tarian ndolalak tak hanya menggunakan jidor, rebana dan kendang saja ataupun hanya menggunakan dua nada saja, tetapi saat ini tarian ndolalak sudah diiringi dengan instrumen musik 'keyboard/organ'. Penarinya pun hanya wanita-wanita muda, dengan lenggokan dan anggukan yang tentunya lebih menimbulkan kesan erotis jika dibandingkan kalau penarinya pria.
Pada saat ini masih terdapat beberapa group tarian ndolalak di Purworejo, misalnnya group ndolalak dari Desa Mlaran dan dari Desa Kaliharjo.
sumber video:youtube.com
Di bawah ini link untuk download lagu ndolalak dan juga langsung bisa diputar:
Dolalak Jarum Jarum
![]() |
| sumber gambar:pdkpurworejo.wordpress.com |
Pada mulanya tarian ndolalak adalah tarian yang dilakukan oleh para pria dengan berkostum layaknya pakaian serdadu belanda yaitu pakaian lengan panjang hitam dengan pangkat di pundak, topi pet, dan berkacamata hitam dengan gerakan seperti layaknya gerakan dansa. Dengan iringan musik yang romantis menggunakan kendang, rebana dan jidor yang disertai dengan lagu-lagu berisi syair nasihat dengan Bahasa Jawa dicampur melayu. Jumlah penarinya antara 10-14 orang dengan pengiring musiknya 10 orang. Waktu pementasan pada saat itu bisa semalam suntuk.
Konon pemain ndolalak bisa kesurupan seperti layaknya pemain kuda lumping, bahkan penonton yang menatap penari ndolalak akan terbius untuk terus menonton hingga pementasan selesai.
Seiring perkembangan jaman, iringan musik tarian ndolalak tak hanya menggunakan jidor, rebana dan kendang saja ataupun hanya menggunakan dua nada saja, tetapi saat ini tarian ndolalak sudah diiringi dengan instrumen musik 'keyboard/organ'. Penarinya pun hanya wanita-wanita muda, dengan lenggokan dan anggukan yang tentunya lebih menimbulkan kesan erotis jika dibandingkan kalau penarinya pria.
Pada saat ini masih terdapat beberapa group tarian ndolalak di Purworejo, misalnnya group ndolalak dari Desa Mlaran dan dari Desa Kaliharjo.
Di bawah ini link untuk download lagu ndolalak dan juga langsung bisa diputar:
Dolalak Jarum Jarum
Kereta Api Bogowonto
Stasiun Kutoarjo yang merupakan stasiun kebanggaan Purworejo dari dahulu memang sudah terkenal sebagai pusat moda angkutan darat kereta api di wilayah Kedu. Terbukti Stasiun Kutoarjo menjadi salah satu stasiun tujuan utama dari ibukota. Bahkan PT KAI membuat beberapa kereta khusus untuk jurusan stasiun Kutoarjo, misalnya KA Bogowonto, kereta yang baru diluncurkan pra lebaran tahun 2010 ini adalah jenis kereta ekonomi AC dengan tarif Rp 70.000 per orang, anak-anak dan lanjut usia tarifnya Rp 56.000 per orang, sedangkan untuk veteran Rp 49.000 per orang. KA Bogowonto melayani jurusan Stasiun Senen-Stasiun Kutoarjo.
Konon dana untuk membangun KA Bogowonto ini PT INKA menghabiskan dana sebesar Rp 38,3 Milyar. Kereta ini dapat melaju dengan kecepatan 100km/jam dengan perkiraan umur penggunaan selama 25 tahun.
sumber: www.kereta-api.co.id, berbagai
Konon dana untuk membangun KA Bogowonto ini PT INKA menghabiskan dana sebesar Rp 38,3 Milyar. Kereta ini dapat melaju dengan kecepatan 100km/jam dengan perkiraan umur penggunaan selama 25 tahun.
sumber: www.kereta-api.co.id, berbagai
PO Sumber Alam Dapat Rekor MURI
Perusahaan Otobus Sumber Alam yang beralamat di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo mempunyai bus yang berjuluk Limo Bus dan mendapatkan piagam rekor MURI karena telah dimodifikasi sehingga panjangnya menjadi 12,6 m dengan roda berjumlah 10 biji, sedangkan interiornya menggunakan sofa yang bisa diubah menjadi tempat tidur. Dilengkapi dengan ruang audio visual dengan sistem audio 5.1 beserta TV 42 inch yang bisa digunakan untuk menikmati film dalam perjalanan, bahkan bisa untuk kegiatan presentasi.
Download Lagu Dangdut Puworejo MP3
Sekedar untuk koleksi lagu-lagu Purworejo dan berbagi dengan teman-teman, di bawah ini link untuk download lagu-lagu dangdut Purworejo:
Quick Count PILKADA Purworejo 2010
Hasil perhitungan metode quick count pemilihan bupati dan wakil bupati Purworejo pada tanggal 26 September 2010 oleh KPU Purworejo pada pukul 21.51: pasangan yang sementara unggul adalah Mahsun-Suhar sebesar 52,86% dari total suara sah yang masuk: 271908 pemilih dari 1243 TPS
Jadwal Imsakiyah 2010 M/1431 H Daerah Purworejo
Sebentar lagi Bulan Ramadhan 1431 H akan segera datang, bagi umat muslim Bulan Ramadahan merupakan bulan penyucian diri karena pada bulan ini umat muslim diwajibkan untuk menahan segala nafsu dari mulai terbit fajar(imsyak) hingga tenggelamnya matahari (maghrib). Jika diibaratkan: Bulan Ramadhan merupakan penawar dari bulan-bulan selain Ramadhan yang seakan-akan adalah racun. Pada Bulan Ramadhan akan dilimpahkan segala rahmat yang tak terhingga, segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, segala kejahatan akan diminimalisir.
Sebab itu penulis juga mengucapkan mohon maaf kepada seluruh pembaca ketika ada kata-kata yang membuat resah dan gelisah...
Sebab itu penulis juga mengucapkan mohon maaf kepada seluruh pembaca ketika ada kata-kata yang membuat resah dan gelisah...
Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Purworejo 2010
Dengan berakhirnya jabatan Bupati dan Wakil Bupati Purworejo periode 2004-2010, maka tahun ini yaitu 2010 akan digelar Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada/Pilbup) yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 31 Juli 2010. Pemungutan suara menggunakan sistem coblosan bukan contrengan seperti pada Pilpres yang lalu.
Menurut Ketua KPU Purworejo Muslikhin Madiani bahwa peserta kontestan Bupati Purworejo periode 2010-2015 menjadi rekor kontestan pilkada terbanyak se Jawa Tengah yaitu dengan sembilan (kontestan) antara lain:
Menurut Ketua KPU Purworejo Muslikhin Madiani bahwa peserta kontestan Bupati Purworejo periode 2010-2015 menjadi rekor kontestan pilkada terbanyak se Jawa Tengah yaitu dengan sembilan (kontestan) antara lain:




.jpg)


.jpg)







